Mes Legendaris Persebaya Merana
Dulu, Persebaya Dikenal Sebagai Lumbung Pemain Berbakat
Tak hanya kondisi Wisma Persebaya yang kurang terawat, konflik juga membuat pembinaan pemain muda terancam mati.
SURYA Online, SURABAYA - Dualisme elit Persebaya melahirkan banyak kemunduran bagi persepakbolaan di Surabaya.
Tak hanya kondisi Wisma Persebaya yang kurang terawat, konflik juga membuat pembinaan pemain muda terancam mati.
Padahal, Surabaya sejak lama dikenal sebagai lumbung pemain sepak bola berbakat.
Tak hanya untuk Persebaya, para pemain muda juga menjadi tulang punggung tim nasional (timnas).
Banyak pemain timnas yang dibesarkan dari kompetisi internal Persebaya.
Deretan nama mulai dari Trio S Sidik, Sidhie, Saderan, dan Tee San Liong di era 1950-an. Subodro, Abdul Kadir, Rusdi Bahalwan, dan Johny Fahamsyah mewakili era 1970-1980-an.
Kemudian ke era 1990-2000-an dengan Mursyid Effendi, Yusuf Ekodono, Bejo Sugiantoro, Anang Ma’ruf, dan Uston Nawawi.
Sampai saat ini, masih ada pemain yang lahir dari kompetisi internal Persebaya yang menjadi pemain timnas. Sebut saja Andik Vermansyah (timnas senior dan U-23).
Kemudian Evan Dimas yang berangkat dari klub internal Mitra Surabaya berhasil menjadi pemain kunci dan kapten Timnas U-19.
Munculnya nama-nama di atas merupakan hasil pembinaan sejak usia dini.
Evan Dimas berhasil mengorbit saat ini karena hasil didikan lima sampai tujuh tahun sebelumnya. Begitu juga dengan Andik.
Konflik saat ini, dikhawatirkan bakal menyumbat pasokan pemain dari Surabaya untuk tahun-tahun berikut.
Dualisme elit memecah anggota klub internal Persebaya yang berjumlah 30 klub.
Sebagian dari mereka bertahan di Karanggayam dan sisanya menyeberang mengikuti kompetisi Pengcab PSSI Surabaya besutan Gede Widiade.
Sebelum konflik mendera, kompetisi internal Persebaya, terbagi atas tiga kasta. Divisi utama, divisi satu, dan divisi dua.
Di kompetisi itu berlaku sistem promosi dan degradasi. Pertandingan pun berlangsung tiap hari, kecuali ketika Persebaya bermain di kandang.
“Kompetisi dulu berlangsung seru. Ada antusiasme sehingga selalu ramai penonton,” kata Hendrik Peter, pengelola tiga klub yakni TEO, Anak Bangsa dan Semut Hitam.
Ketiga klub binaan Peter kini berlaga di kompetisi Pengcab PSSI Surabaya.
Menurut Peter, kompetisi internal Persebaya sebenarnya sangat baik.
Bahkan, ketika terjadi gejolak Reformasi 1998 yang membuat kompetisi Liga Indonesia dihentikan, kompetisi internal tetap berjalan.
Kompetisi ini tidak berhenti melahirkan pemain kelas nasional. (ben/idl/ook)