Sebelum Meninggal, Mengeluh Kepalanya Sakit

Keluarga teman-teman Andy yang diduga melakukan pengeroyokan belum ada yang datang ke rumah korban.

SURYA Online, MALANG - Kematian M Andy Nur Fahmi (14), siswa kelas 8F SMPN 1 Tajinan, Kabupaten Malang membuat sedih orang tuanya. Ketika Surya Online di rumahnya di Desa Tangkilsari, Kecamatan Tajinan, Fadil, ayah korban tidak mau memberi keterangan kepada awak media. "Saya tidak bisa memberi penjelasan. Ke Pakde-nya saja, ya," tuturnya, Kamis (5/6/2014).

Ia kemudian meninggalkan ruang tamu. Alasannya, ia tidak mengetahui persis kejadian itu. Namun menurut penuturan ibu kandungnya, Yuningsih, awalnya ia juga tidak tahu kalau anaknya habis dikeroyok. "Ia pulang sekolah langsung masuk ke kamar tidurnya," tutur Yuningsih dengan wajah sedih.

Andy diantar teman satu sekolah dengan memakai motornya. Menurut ibu dua anak ini, kondisi hidung anaknya berdarah dan mengeluhkan kepalanya sakit. Ia pulang dari sekolah sekitar pukul 12.30 WIB. "Kepalaku sakit, Bu," keluh Andy.

Setelah ditanya, ia baru mengaku jika habis dikeroyok teman-temannya. Tapi ditanya penyebabnya, Andy tutup mulut. "Jadi, saya belum tahu penyebab anak saya dikeroyok teman-temannya," katanya.

Andy hanya menyebut nama beberapa anak yang ikut mengeroyok. Karena makin parah, keluarganya kemudian membawanya ke RS Panti Nirmala Kota Malang. Saat dibopong ayahnya keluar rumah, rasa sakitnya makin terasa.

Di RS, Andy sempat akan dioperasi. Perkiraan biayanya Rp 50 juta. "Kami berusaha mencari pinjaman dan mendapatkan sekitar Rp 25 juta. Tapi jika dioperasi, peluang hidupnya juga kecil. Akhirnya tidak operasi," ungkap paman korban, Mashudi.

Informasi yang didapatkan, pengeroyokan itu terjadi karena korban mengisi air ke tangki bensin motor temannya. "Tapi kebenarannya, saya belum tahun," jawab Mashudi.

Suswati, bibi korban menyatakan, sebelum kejadian itu, ia mendapatkan cerita bahwa Andy sudah pernah menyatakan kepada temannya bakal adanya pengeroyokan atas dirinya. Makanya korban sudah berpesan minta tolong ke temannya, jika ia dikeroyok, agar ia dibantu.

"Mungkin sebelumnya sudah mendapat ancaman," tutur Suswati. Sebagai bagian dari keluarga korban, ia mengharapkan kasus itu diproses. "Kami sudah memaafkan, tapi kami minta tetap diproses," jelasnya.

Keluarga teman-teman Andy yang diduga melakukan pengeroyokan belum ada yang datang ke rumah korban. Tapi dari pihak sekolah sudah datang. Wartawan mendatangi SMPN 1 Tajinan tidak berhasil mendapatkan klarifikasi dari kepala sekolah karena sedang ada kegiatan di Kantor Dindik Kabupaten Malang di Kepanjen.

"Kami tidak tahu kejadian itu. Yang tahu adalah kepala sekolah," jawab Rosi, seorang guru kepada wartawan. Nampaknya sangat aneh jika kejadian pengeroyokan itu tidak diketahui. Sebab SMPN 1 Tajinan tidak terlalu luas. Kelas 8 nampak terpantau dari ruang guru. Begitu juga lapangan basket yang disebut juga menjadi TKP pengeroyokan.

Penulis: Sylvianita Widyawati
Editor: Wahjoe Harjanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved