Kadindik: Kalau Tahu Mestinya Dihentikan

Soal sanksi-sanksi yang mungkin diberikan ke sekolah, selain menunggu proses hukum, juga bakal diberlakukan PP 53/2010 tentang disiplin PNS.

Kadindik: Kalau Tahu Mestinya Dihentikan
surya/sylvianita widyawati
KORBAN PENGEROYOKAN - M Andy Nur Fahmi, siswa kelas 8F SMPN 1 Tajinan, Kabupaten Malang tewas setelah diduga dikeroyok 17 temannya, Rabu (4/6/2014).

SURYA Online, MALANG - Kadindik Kabupaten Malang, Budi Iswoyo menyatakan, sudah mengetahui kejadian di SMPN 1 Tajinan setelah mendapat informasi lisan dari kepala sekolahnya. "Iya, kami sudah menurunkan orang Dinas ke SMPN 1 Tajinan untuk mengetahui kejadiann itu," jelas Budi Iswoyo kepada Surya Online di ruang kerjanya, Kamis (5/6/2014).

Hal itu menanggapi terjadinya pengeroyokan pada M Andy Nur Fahmi (14) siswa kelas 8F SMPN 1 Tajinan yang diduga tewas setelah dikeroyok teman-temannya. Pemicunya diduga karena korban memasukkan air ke tangki bensin motor seorang pelaku.

Dengan adanya kasus ini, pihaknya akan melakukan pembinaan ke sekolah. Selain itu juga ke sekolah lain agar kejadian sejenis tidak terjadi. Karena kasusnya sedang ditangani polisi, ia masih menunggu proses hukumnya.

Penuturan Budi mengutip pernyataan kepala sekolahnya, ia tidak mengetahui kejadian itu. Namun pihaknya tetap akan mencari tahu. Apalagi di satu sisi, para guru menyatakan tidak tahu kejadian itu, dan yang tahu hanya kepala sekolah.

"Kalau guru ada yang tahu kejadian itu, mestinya ya dihentikan. Kalau guru-guru nggak tahu, mereka sedang dimana? tanyanya. Apalagi saat itu juga masih jam sekolah. Karena itu ia mengharapkan jika siswa ada masalah, bisa melakukan konseling ke guru BK agar tidak sampai ada kejadian seperti itu lagi.

Soal sanksi-sanksi yang mungkin diberikan ke sekolah, selain menunggu proses hukum, juga bakal diberlakukan PP 53/2010 tentang disiplin PNS. "Tapi itu nanti ranahnya inspektorat yang turun," jelas Budi. Sanksi diberikan sejauh mana pelanggarannya.

Soal pemeriksaan 17 siswa di UPPA Satreskrim Polres Malang, menurutnya agar mendapatkan keterangan yang objektif tentang kejadian itu.  Dari keterangan keluarga korban, Andy di rumah dikenal tertutup. Permasalahan yang dihadapinya jarang disampaikan. Bahkan sampai kejadian pengeroyokan itu, Andy tidak mau menjelaskan mengapa ia dikeroyok oleh teman-temannya. Ia hanya mengeluhkan sakit di kepalanya. "Luka memarnya hanya ada di kepala, hidungnya berdarah," tutur ibunya, Yuningsih.

Rencana operasi karena gegar otak itu diharapkan bisa menyelamatkan nyawanya. Tapi dokterpun tidak berani menjamin. Karena peluang hidupnya cukup kecil. Akhirnya ia meninggal dunia.

Penulis: Sylvianita Widyawati
Editor: Wahjoe Harjanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved