Software Teacher Call Berbasis Android
Karya Siswa SMAK St Hendrikus Surabaya Raih IBIA dari Hongkong
Eka dan Kevin pun timbul ide untuk membuat alat yang bisa memanggil guru tanpa menimbulkan suara bising maupun mengganggu guru lainnya.
Penulis: Musahadah | Editor: Parmin
SURYA Online, SURABAYA - Beberapa sekolah kini memberlakukan aturan tegas bagi siswa yang masuk ke ruang kerja guru. Salah satunya SMAK St Hendrikus Surabaya yang memberi batasan meja sebagai meeting point untuk siswa memanggil guru di ruangannya. Kondisi ini mendorong Eka Cipta Muliawan dan Kevin Valentino menciptakan software Teacher Call yang berbasis android.
Diakui Eka, awal pemberlakuan kebijakan ini dua tahun silam membuat para siswa kesulitan jika ingin memanggil guru untuk keperluan pembelajaran. Terutama guru yang posisi ruang kerjanya di belakang.
"Kami terpaksa meminta bantuan guru di depan untuk memanggilkan. Tapi lama-kelamaan hal ini mengganggu mereka karena harus bolak balik memanggil guru di belakang,"ungkap Eka saat ditemui di sekolahnya beberapa waktu lalu.
Meski cukup merepotkan, Eka mengaku kebijakan ini baik karena akan menghindarkan kontak langsung guru dan siswa di ruang kerjanya. Dan ini akan menghindarkan hal-hal negatif yang mungkin terjadi seperti hacking atau pencurian.
Eka dan Kevin pun timbul ide untuk membuat alat yang bisa memanggil guru tanpa menimbulkan suara bising maupun mengganggu guru lainnya. Dan pilihan mereka jatuh pada software android.
Hanya saja, karena di sekolahnya belum diberikan mata pelajaran tentang pembuatan software android, dia pun harus bekerja keras belajar sendiri.
"Kami otodidak belajar program Android Developer Tool. Karena memang belum waktunya diajarkan di sekolah, awalnya kesulitan, tetapi lama-lama juga bisa,"sebut Eka yang belum lama ini sudah dinyatakan lulus dari SMAK St Hendrikus.
Untuk mengoperasikan aplikasi ini, lebih dulu Eka memasukkan daftar nama guru di programnya.
Para guru ini juga harus menginstal aplikasi tersebut. Sementara di meeting point diletakkan sebuah ponsel yang sudah diinstal dengan aplikasi ini.
Siswa yang ingin memanggil guru tinggal mengklik nama guru yang dituju, maka di dalam ponsel guru tersebut akan berdering menandakan dia sedang ditunggu muridnya di meeting point.
"Memang saat ini masih memakai saluran seluler berbayar. Tetapi ke depannya kami ingin menggunakan wifi sehingga bisa free,"katanya.
Selain diletakkan di meeting point, aplikasi ini juga diletakkan di meja guru piket.
Hal itu untuk mengantisipasi guru bolak-balik dari ruang guru ke kelas hanya sekadar ingin mengambil laptop atau buku yang diperlukan.
"Biasanya kalau guru ke luar kelas, murid-murid yang di dalam langsung ramai karena senang. Dan itu bisa mengganggu kelas lain,"katanya.
Dengan aplikasi ini, guru yang bersangkutan bisa langsung meminta bantuan guru piket untuk mengambilkan laptop ataupun keperluan lain. Ini jauh lebih efisien dibandingkan guru bolak-balik ke ruang kerjanya.
Kenapa tidak memanfaatkan sms atau blackberry messenger, menurut Eka fasilitas sms ataupun BBM selama ini banyak dimanfaatkan murid untuk menjahili gurunya. "Kalau aplikasi ini kan hanya bisa dilakukan di sekolah dan tidak ada unsur jahilnya,"katanya.
Dipilihnya ponsel android untuk mengaplikasikan software ini karena hampir 80 persen guru SMAK st Hendrikus memakai android. Dan aplikasi ini sudah dicoba beberapa bulan lalu. hampir semua guru dan siswa mengapresiasi positif inovasi tersebut.
Ke depannya mereka akan mengembangkan aplikasi ini dengan menambah menu available dan busy yang bisa diaktifkan jika guru tersebut sedang sibuk maupun tidak.
"Dengan aplikasi ini kami ingin privasi guru tetap dijaga. Dan siswa mudah untuk memanggilnya,"tandasnya.
Belum lama ini aplikasi yang dibuat hanya dalam waktu sebulan ini meraih medali perunggu di ajang Asian Young Inventor Exhibition (AYIE) 2014 di Malaysia.
Eka dan kevin juga meraih predikat International Best Invention Award (IBIA) dari Hong Kong Invention Association (HKIA) yang diberikan di ajang serupa di malaysia.
AYIE digelar dalam acara ITEX (International Invention, Innovation and Technology Exhibition) dan dikelola oleh MINDS (Malaysian Invention and Design Society) bekerjasama dengan Kementerian Pendidikan serta Kementerian Sains, Teknologi dan Inovasi pemerintah Malaysia.
Di ajang ini, siswa SMAK St Hendrikus mendapat pendampingan dari Center for Young Scientists (CYS) dari Surya University.
Belum lama ini Eka sempat bertemu dengan Walikota Surabaya Tri Rismaharini di ruang kerjanya. Risma menawarkan untuk mematenkan inovasi mereka. "Semoga terlaksana,"harapnya.