Liputan Khusus Polemik Piala Risma
Risma : Aku Kapok Wis Nampa Penghargaan Maneh!
Saya mau fokus kerja saja. Aku lho tidak apa-apa tidak dapat penghargaan. Saya sering kok nolak-nolak penghargaan.
SURYA Online, SURABAYA - Berikut lanjutan wawancara Harian Surya dengan Risma, Rabu (7/5/2014) malam.
Ada yang menganggap penghargaan itu untuk pencitraan pribadi ibu. Bagaimana tanggapan ibu?
Tidak ada niatan itu, demi Allah. Untuk apa saya cari itu (penghargaan). Saya hanya ingin menolong anak-anak miskin di Surabaya agar bisa berprestasi. Saya hanya ingin memperkenalkan Surabaya kepada bule-bule di sana (Inggris).Diambil pun jabatan saya rela, nggak ada yang saya pertahankan.
Saya ingin menunjukkan ke orang Surabaya agar jangan pasrah. Orang-orang miskin bisa termotivasi dan bisa bangkit. Karena di lapangan, membangkitkan semangat orang itu sulitnya bukan main. Cuma dengan kata-kata saja akan sulit. Motivasi ini tentu target akhirnya masyarakat bisa terpacu untuk maju dan sejahtera.
Jadi nggak ada, terus saya bangga atau apa. Itu sudah selesai. Karena bagi saya, kalau mengingat-ingat ini (penghargaan), saya jadi orang sombong dan tidak akan pernah maju. Saya tidak masalah tidak dapat penghargaan, karena tidak dibawa mati.
Saya cuma ingin menunjukkan warga Surabaya kalau mereka bisa lebih baik dari bule-bule yang selama ini mereka anggap lebih pintar. Sampe saya sering bilang ke orang-orang, kamu kalau ketemu bule jangan menunduk.
Gara-gara beda piala antara yang diterima dengan yang dirilis di Surabaya, piala ini jadi polemik. Tanggapan ibu?
Aku kapok wis nampa penghargaan maneh. Aku lho rapopo Mas, gak dapat penghargaan. (Aku kapok menerima penghargaan seperti ini lagi). Saya mau fokus kerja saja. Aku lho tidak apa-apa tidak dapat penghargaan. Saya sering kok nolak-nolak penghargaan.
Penghargaan apa itu bu?
Ada beberapa waktu lalu kita tiba-tiba dinyatakan sebagai satu dari sekian kandidat wali kota terbaik dunia oleh City Mayor of the World. Saya ndak tahu kenapa mereka memasukkan nama saya. Tapi saya tolak karena harus kirim SMS seperti (ajang) idol itu lho. Voting. Ya saya emoh. Nyapo (ngapaain) aku kirim SMS. Begitu juga untuk Socrates Award ini. Kita lho dapat undangan. Kita ndak ngoyol-ngoyol daftar. (idl/ben)