Unas 2014
Teror Unas Meluas ke Pusat Kota
Memasuki hari kedua ujian nasional (unas), Selasa (15/4/2014), teror kunci jawaban semakin meluas. Kali ini peneror memilih wilayah Surabaya pusat.
Penulis: Musahadah | Editor: Parmin
SURYA Online, SURABAYA – Memasuki hari kedua ujian nasional (unas), Selasa (15/4/2014), teror kunci jawaban semakin meluas. Kali ini peneror memilih wilayah Surabaya pusat untuk melancarkan aksinya.
Teror via broadcast blackberry messenger (bbm) itu mulai menyebar pada Selasa pukul 05.30. Mata pelajaran yang dipilih adalah Matematik yang bagi sebagian siswa dianggap cukup sulit.
Di kunci jawaban yang disebar itu, peneror juga membuat lima petunjuk soal mulai nomor urut satu hingga lima untuk menandai paket soalnya karena di unas tahun ini ada 20 paket soal berbeda.
Ketua Hotline Pendidikan Jatim Isa Anshori mengungkapkan, modus teror kunci jawaban ini sama dengan unas tahun 2013, hanya polanya saja yang berbeda.
”Tahun lalu di setiap paket juga ada petunjuknya. Bedanya kalau sekarang petunjuknya nomor 1 sampai 5 di setiap paket. Tahun lalu petunjuknya diacak di nomor 1, 4, 15 atau 40,” terang Isa, Selasa (15/4/2014).
Selain itu, pola penyebarannya juga berubah. Jika tahun lalu peneror menyasar daerah pinggiran seperti Surabaya Timur, kali ini peneror memilih tengah kota.
Teror ini sebenarnya sudah terjadi sejak unas hari pertama untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia. Sejak Minggu pukul 16.00 WIB sudah beredar foto kopiu jawaban soal yang diterima siswa-siswa sekolah kawasan Surabaya Pusat. ”Terlepas itu valid atau tidak membuat situasi anak-anak tidak kondusif,”katanya.
Agar hal ini ada penyelesaiannya, Isa berharap dinas pendidikan mau mencocokkan paket kunci jawaban tersebut dengan soal yang ada. Hal itu sangat mungkin karena naskah soal bukan menjadio rahasi lagi karena sudah dikerjakan.
”Mestinya harus dijawab tidak dengan statemen yang datar. Kalau memang salah ya dijawab salah. Kalau benar ya harus diusut,”tegasnya.
Isa mengaku sudah mengkooordinasikan hal itu kepada Dinas Pendidikan Jatim karena bukan tidak mungkin kasus serupa juga terjadi di wilayah lain.
”Tahun lalu kasus seperti ini tidaka da jawaban yang pasti apakah yang beredar itu benar atau salah. Jadi sekarang harus dibuktikan karean sebenar lagi juga ada unas SMP sehingga tidak terjadi keresahan serupa,”pungkasnya.