Ibu Gendong Anak Pingsan di Tengah Rel KA
Tubuh kurusnya tidak kuat dan akhirnya ambruk tak sadarkan diri di tengah rel kereta api.
Penulis: Wahyu Nurdiyanto | Editor: Satwika Rumeksa
SURYA Online, BANYUWANGI - Sari Ayu Islamiyah (43) dengan mengendong anaknya yang berusia tiga tahun berjalan menyusuri rel kereta api dari Stasiun Kedungwadung di Kecamatan Glenmore, Kabupaten Banyuwangi menuju ke Pelabuhan Ketapang yang berada di Kota Banyuwangi yang jaraknya 40 kilometer lebih.
Tindakan nekat ini dilakukan Sari karena tak punya uang cukup untuk ongkos transpor menuju rumahnya di Jembrana, Bali.
Kenekatan Sari harus dibayar mahal, tubuhnya lemas dan akhirnya jatuh pingsan di tengah rel kereta api yang berada di Desa Banjarsari, Kecamatan Glagah, Banyuwangi pada Jumat (21/3/2014) pagi. Tak hanya itu, tubuh kurusnya menindih anaknya Sinta Fitri Ramadani.
Beruntung ada warga yang melihat. Sari dan anaknya yang menangis keras tertindih tubuh ibunya ditolong dan akhirnya dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah Blambangan.
Isa Malik, warga yang menemukan ibu malang ini menceritakan, awalnya ia dan warga lain menduga ibu ini akan bunuh diri dan akan mengajak anaknya.
"Setelah ditolong dan siuman ibunya cerita kalau pingsan dan bukan mau bunuh diri," kata Malik.
Ditemui di Instalasi Gawat Darurat RSUD Blambangan, Sari yang masih lemas dan mendapatkan asupan cairan infus menceritakan kisah perjalanannya.
Dia bersama anak keduanya, sebelumnya pergi dari Jimbaran menuju Wonosari, Gunung Kidul, Yogyakarta.
Tujuan ke Wonosari adalah mencari suaminya Agus Hamzah (38) yang kabarnya sudah menikah lagi.
"Saya naik bis, dan hanya bawa uang empat ratus ribu," cerita Sari.
Di Wonosari, Sari memang berhasil menemukan alamat rumah suami dan istri barunya. Namun, dia sendiri gagal bertemu langsung.
Dia hanya mendapatkan penjelasan dari ketua RT di mana suaminya tinggal.
"Kata pak RTnya, suami saya sudah menikah secara resmi dan waktu menikah statusnya duda," ucapnya.
Tidak percaya dengan ucapan ketua RT, Sari mendatangi Kantor Urusan Agama setempat untuk melaporkan status pernikahan suaminya.
Ibu dua anak ini mengaku terpukul dengan kenyataan suaminya telah menikah lagi. Tidak hanya itu, menurut Sari, suaminya juga meninggalkan utang Rp 40juta dan membuat rumah mereka di Nagara disita bank.
Suaminya sebelumnya sudah pergi dari rumah meninggalkan Sari dan anaknya sejak satu tahun lalu.
Tidak berhasil bertemu suaminya, Sari memilih pulang ke Bali karena anak bungsunya Ananda Nicko Rulli (2) dititipkannya ke saudara. Malang baginya, sampai di Surabaya uangnya menipis dan hanya cukup untuk makan.
Sari kemudian mendatangi kantor polisi, dan kemudian mendapatkan surat keterangan untuk bisa numpang kereta api menuju Banyuwangi.
Entah mengapa, Sari ternyata tidak turun di Stasiun Banyuwangi Baru yang dekat dengan Pelabuhan Ketapang. Sari malah turun atau diturunkan di Stasiun Sumberwadung yang jaraknya masih jauh dari Ketapang.
"Saya jalan kaki, karena tak punya ongkos. Dan saya pilih menyusuri rel karena saya tahu rel ini mengarah ke Ketapang," ucapnya.
Dengan kondisi tubuh lemas akibat kurang makan dan harus mengendong anaknya serta memanggul tas ransel besar, Sari akhirnya gagal menuju ke Ketapang.
Tubuh kurusnya tidak kuat dan akhirnya ambruk tak sadarkan diri di tengah rel kereta api.
Sari pada akhirnya memang bisa pulang ke rumahnya setelah mendapatkan perawatan di rumah sakit dan mendapat bantuan ongkos tranpor dari Kantor Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Banyuwangi.
"Tubuhnya sudah membaik. Awalnya memang kami cegah untuk pulang dan istirahat dulu di rumah sakit atau rumah singgah milik Pemkab, tapi dia meminta pulang karena kepikiran anaknya yang kecil," terang Rois Masrullah, petugas Kantor Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Banyuwangi yang mendampingi Sari.