Breaking News:

Joop Nahuysen Anak Serdadu Belanda

Siapkan Monumen di Tanah Pulau Bawean

Diiringi musik keyboard, mulailah satu per satu menyampaikan pendapatnya terhadap peristiwa pertempuran di laut Jawa itu.

Siapkan Monumen di Tanah Pulau Bawean
Surya/srihandi lestari
Usai tabur bunga di perairan Pulau Jawa dan melakukan kunjungan ke titik-titik yang akan dipilih sebagai tempat pembangunan monumen di Pulau Bawean, Joop ke makam kehoramatan Belanda di Kembang Kuning, Surabaya, Minggu (2/3/2014).

Setelah kapal kosong dengan penumpang dan barang bawaannya, kapal Express Bahari inipun berlanjut mengantar rombongan Joop ke titik koordinat 06 00 lintang Selatan – Barat (SW) dan 112 lintang utara (EL). Ditempuh dalam perjalanan satu jam dari pelabuhan Bawean. Sepanjang perjalanan, ombak laut tampak bergejolak, tapi tidak sampai tinggi. Di dek belakang kapal, telah disediakan karangan bunga, dan beberapa keranjang kelompak bunga mawar. Tak hanya itu, guide dari tim Joop juga menyediakan sebuah keyboard untuk upacara.

Ketika tiba dititik koordinat, Joop pun menggelar upacara penghoramatan tabur bunga itu. Diiringi musik keyboard, mulailah satu per satu menyampaikan pendapatnya terhadap peristiwa pertempuran di laut Jawa itu.

“Tidak hanya ayah saya, yang ada di kapal yang tenggelam juga banyak orang-orang Indonesia, pahlawan Indonesia, tidak hanya Belanda, tapi juga serdadu-serdadu orang Jawa, Maluku, Makasar, Menado, Ambon, Medan dan lain sebagainya. Kita adalah satu tidak berbeda,” ungkap Joop.

Suasana syahdu pun terasa, ketika lagu “Ayah” ciptaan Rinto Harahap, dinyanyikan. Lagu itu diakui Joop sebagai ungkapan rasa rindunya pada sang ayah yang tidak pernah ditemuinya.

Setelah upacara yang berlangsung selama setengah jam, rombongan pun kembali ke Pulau Bawean untuk bermalam di salah satu hotelnya. Sekitar pukul 18.00 WIB, sesampainya di hotel, mereka menikmati sajian makanan khas Pulau Bawean, berupa ikan bakar dan goreng.

Pada Jumat (28/2/2014) paginya, Joop tidak langsung pulang ke Gresik. Dia mengaku sudah berkoordinasi dengan seluruh anggota VON untuk mendirikan monumen penghormatan bagi tiga kapal yang tenggelam di pulau Bawean ini. “Kami sebenarnya sudah usul ke Pemerintah Belanda agar mereka yang membangun. Tapi mereka kurang merespon, hingga akhirnya kami berinisiatif membangun sendiri,” ungkap Joop.

Monumen penghormatan ini sebenarnya sudah ada di komplek makam kehormatan Kembang Kuning di Surabaya. Tapi untuk lebih dekat lagi, maka Pulau Bawean yang menjadi pilihan agar menjadi tempat pendirian monumen.

Sepanjang hari Jumat itu, Joop bersama warga lokal Pulau Bawean, melakukan survei di tiga titik yang mungkin memenuhi untuk dibangun monumen. Ketiga titik ini merupakan titik terdekat dengan lokasi tenggelamnya tiga kapal Belanda ini.

“Masih kita lihat tiga titik ini. Mana yang cukup kuat dan bisa kita bangun. Sekalian menyiapkan petugas, penjaga, dan pembangunnya,” jelas Joop.

Di antara tiga titik itu adalah Tanjung Gaang dan Tanjung Putri. Dengan keberadaan monumen di Pulau Bawean ini diharapkan bisa menjadi jujugan bagi keturunan para serdadu Hindia Belanda yang ingin bertakziah. Tidak lagi di makam-makam kehormatan Belanda, yang hanya menampilkan nama-nama serdadu yang gugur saja.

“Tapi disinilah, di perairan inilah, masih ada jasad-jasad mereka yang tenggelam ke dasar laut bersama tiga kapalnya,” tandas Joop. (sri handi lestari, 3 habis)

Tags
Bawean
Penulis: Sri Handi Lestari
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved