Joop Nahuysen Anak Serdadu Belanda

Siapkan Monumen di Tanah Pulau Bawean

Diiringi musik keyboard, mulailah satu per satu menyampaikan pendapatnya terhadap peristiwa pertempuran di laut Jawa itu.

Siapkan Monumen di Tanah Pulau Bawean
Surya/srihandi lestari
Usai tabur bunga di perairan Pulau Jawa dan melakukan kunjungan ke titik-titik yang akan dipilih sebagai tempat pembangunan monumen di Pulau Bawean, Joop ke makam kehoramatan Belanda di Kembang Kuning, Surabaya, Minggu (2/3/2014).

SURYA Online, SURABAYA - Ternyata keturunan serdadu Hindia Belanda tidak hanya Joop Nahuysen yang ingin mengenang dan mengingat kebesaran ayah atau kakek mereka. Sehingga Joop bersama puluhan keturunan serdadu Hindia Belanda yang tewas dalam pertempuran di laut Jawa pada tahun 1942, membentuk sebuah organisasi VON (Voreniging van Overlevenden & Nabestaanden van “De Slag in de Java Zee 1942 c.a) atau Union of Survivors & Relatives From “The Battle in The Java Sea 1942 c.a.

Dengan organisasi VON ini, Joop sebagai ketua, mendapat banyak dukungan untuk kegiatan upacara peringatan tabur bunga di titik koordinat tenggelamnya tiga kapal perang Belanda di laut Jawa. Pada 27 Februari lalu, merupakan kegiatan ketiga yang terbilang cukup lancar dalam perjalanan maupun prosesinya.

Berangkat dari pelabuhan Gresik dengan kapal Express Bahari, pukul 09.00 WIB, bercampur dengan penumpang umum, rombongan Joop tiba di Pelabuhan Pulau Bawean pada pukul 12.30 WIB. Laut sangat bersahabat selama perjalanan. Padahal keberangkatan kapal itu, menurut sang kapten kapal, dilakukan setelah lebih dari satu minggu tidak berangkat karena ombak yang tinggi.

“Ini setelah kami tidak berangkat ke Bawean selama seminggu lebih. Ombak tinggi,” kata Yorsis, sang kapten

Sesampainya di Bawean, kapal dengan kapasitas 380 orang itupun menurunkan penumpang dan barang-barang yang ada di kapal. Tidak hanya itu, awak kapal juga tampak menerima panggilan dan memanggil para penjemput yang ada di dermaga untuk mengambil barang-barang kecil titipan bagi masing-masing nama. “Pak Lukman, ada obat dan surat. Siapa yang ambil?” teriak salah satu awak kapal.

Atau ada juga teriakan, “Titipan Baharudin Pak”, yang ditindak lanjuti dengan penyerahan bungkusan kepada yang berteriak itu.

Joop dan rekannya, Karel Ootens serta Inrias, asistennya, tampak ikut turut. Mereka menikmati pemandangan yang ada di dermaga. Riuh para penumpang dan penjemput yang berjubel. Tampak pula gerobak-gerobak kosong yang kemudian diisi dengan barang bawaan penumpang. Mulai kardus-kardus, hingga bungkusan berisi sayuran, buah-buahan, dan travel bag berukuran besar dan banyak.

“Ini orang habis pulang umroh. Juga ada yang datang dari Malaysia dan Singapura. Bawaannya pasti travel bag ukuran besar seperti ini,” jelas Muhammad Amin, salah satu warga Bawean yang turut serta turun dari kapal.

Joop dan Karel terlihat asyik menikmati pemandangan itu. Beberapa kali keduanya menjepretkan kamera ke arah aktivitas itu. “Saya baru pertama kali kesini. Jadi ini waktunya mengambil gambar yang banyak,” ungkap Karel yang merupakan sahabat Joop di Belanda kemudian ikut pindah ke Bandung, tinggal bersama istrinya yang orang Indonesia, Mariati Sumatupang. Mariati sendiri yang ikut serta dalam rombongan itu, terlihat memilih duduk di dalam kapal saja.

“Saya disini saja. Badan saya cukup berat bila harus berjalan-jalan naik turun kapal,” komentar Mariati.

Halaman
12
Tags
Bawean
Penulis: Sri Handi Lestari
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved