Breaking News:

Mbah Khot Penyelamat Petis Ikan Lamongan

Di tangan Mbah Khotijah (70) inilah petis ikan asli Lamongan sanggup bertahan hingga sekarang.

Mbah Khot Penyelamat Petis Ikan Lamongan
Aflahul Abidin

Oleh : Aflahul Abidin
Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Islam Darul Ulum Lamongan
aflahulabidin2@gmail.com

Setidaknya ada dua jenis petis yang banyak beredar di pasaran, petis udang dan petis ikan. Petis udang mungkin tak asing. Tapi, bagaimana dengan petis ikan? Asing maupun tidak asing, Anda layak tahu bagaimana Khotijah, warga Desa Sedayulawas, Brondong, Lamongan, ini membuatnya.

Setiap malam, di dapur rumahnya, Mbah Khotijah dengan telaten menata satu demi satu ikan layang—yang sebelumnya telah ia cuci bersih—dalam sebuah panci besar di atas kompor gas. Setelah siap, garam dan air ia tambahkan. Ya, ia akan memindang ikan layang. Begitu klik, kompor langsung menyala, ia santai sejenak, menunggu hingga ikan matang.

Sekitar setengah jam, wanita 70 tahun itu mengangkat panci, memindahkan ikan layang yang sudah matang, memindah sari rebusan ikan tadi pada wadah, dan menata kembali ikan-ikan layang lain yang sudah antre di belakang. Begitu seterusnya, hingga 50 kilo ikan layang selesai dipindang.

Besok pukul 02.30 pagi dengan menahan kantuk, ia harus merebus kembali sisa air pemindangan tadi malam untuk dijadikan petis. Mula-mula, air sisa yang dalam bahasa setempat disebut kolo iwak dimasukkan dalam panci lalu direbus.

Butuh waktu satu jam untuk menyulap kolo iwak menjadi petis. Semua harus selesai sebelum mentari nampak di ufuk, saat Mbah Khot berangkat ke pasar untuk menjajakan ikan pindang dan petis buatannya.

Di Lamongan, khususnya di sepanjang garis pantai di Kecamatan Brondong dan Paciran, mencari petis ikan asli sudah sesulit mencari jarum dalam tumpukan jerami. Dari puluhan pembuat petis ikan, mungkin bisa dihitung dengan jari yang menjaga petisnya tetap asli. Salah satu yang masuk dalam hitungan jari tersebut adalah Mbah Khot.

Bagi Anda yang masih awam dengan petis ikan, petis ini memiliki warna, rasa dan tekstur berbeda dengan petis udang. Jika petis udang hitam, gurih, dan lembut, petis ikan merah kecokelatan, asin, dan agak padat.

Kita tahu, ikan laut merupakan sumber protein yang tinggi, termasuk ikan layang. Meski petis hanya berasal dari air sisa pindangan, protein yang dikandungterhitung masih cukup banyak, yakni dua per tiga dari protein pindang layang itu sendiri.

Menurut data kandungan gizi bahan pangan dan hasil olahan, Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Provinsi Yogyakarta, pindang layang mengandung protein 30 gr, kalsium 60 mg, fosfor 200 mg, dan vitamin A 200 SI. Petis ikan kandungan proteinnya tersisa 20 gr, kalsium 37 mg, fosfor 36 mg, dan kehilangan seluruh vitamin A dalam proses perebusan yang begitu lama.

Petis ikan bisa dibuat dari berbagai macam ikan laut. Hanya saja, untuk membuat petis yang paling gurih, ikan layang yang paling cocok, tutur Mbah Khot yang hampir selalu membuat petis hanya dengan kolo iwak layang.

Tags
petis ikan
Editor: Tri Hatma Ningsih
Sumber: Surya Cetak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved