Adu Kreatif Membuat Roket Air
Jumlah sayap roket ini berbeda-beda karena harus melihat kondisi udara di lokasi. Kalau udaranya kencang yang cocok adalah yang tiga buah
Penulis: Adrianus Adhi | Editor: Wahjoe Harjanto
SURYA Online, MALANG - 96 Pelajar dari 12 SMA di Jawa Timur mempresentasikan pembuatan roket air yang bisa terbang paling tinggi dan bisa bertahan lama di udara di Gedung Universitas Merdeka, Kota Malang, Senin (24/2/2014).
Salah satu bentuk roket yang cukup unik adalah dari tim kedua SMA 1 Bangil, Pasuruan. Tim ini membuat tiga model dengan sayap roket air berbentuk prisma dengan ukuran 15 cm x 10 cm dan lebar 5 cm.
Model pertama sayap roket yang terbuat dari bahan fiberglas dibuat prisma memanjang dengan jumlah empat buah. Model kedua sayap roket dibuat lebih pendek dengan bentuk, bahan dan jumlah yang sama. Model terakhir, sayap roket dibuat serupa dengan model pertama tapi jumlahnya hanya tiga buah.
"Jumlah sayap roket ini berbeda-beda karena harus melihat kondisi udara di lokasi. Kalau udaranya kencang yang cocok adalah yang tiga buah," kata Sylvia Deviki, pelajar kelas II dari SMA 1 Bangil.
Sylvia mengatakan, bentuk sayap memiliki pengaruh besar pada kestabilan roket mengudara dan mempengaruhi arah terbang roket. Karena itu ia dan dua temannya mengukur dengan presisi bentuk sayap, termasuk lebar sayap. "Salah sedikit putarnya roket bisa oleng," aku Sylvia.
Dalam lomba yang digelar oleh Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Merdeka ini, SMA 1 Bangil mengirimkan perwakilan siswa terbesar, 10 tim dengan jumlah anggota tiap tim tiga orang.
Meski demikian, persepsi tiap tim soal bentuk sayap juga berbeda-beda. Ada yang memilih berbentuk segitiga siku-siku, segitiga sama kaki bahkan juga ada yang membuat sayapnya dengan bentuk persegi. Tak hanya itu saja, pemberat ditiap roket seluruh peserta juga beragam. Ada yang memasukan pemberat seperti batu, besi, bola pingpong, hingga bola tenis.
"Pemberat saya dari batu dengan berat tertentu. Ini gunanya supaya terbangnya bisa sesuai dengan arah yang diinginkan," ungkap Aldiano, salah satu pelajar kelas 11 dari salah satu SMA di Kabupaten Malang.
Ketua Panitia Pelaksana Lomba Karya Ilmiah Roket Air, Sersan Kepala Khabib Cahyono mengatakan, lomba ini untuk daya kreatifitas siswa. "Karena itu lombanya kami gelar berbeda. Bukan yang terjauh tapi yang terlama bertahan di udara, paling tinggi dan yang terdekat jatuhnya," kata mahasiswa semester akhir di Jurusan Teknik Mesin ini.
Mahasiswa yang juga sekolah di Lembaga Pengkajian Teknologi Angkatan Darat ini menjelaskan, lomba ini digelar dalam dua tahap. Tahap pertama, 32 tim wajib mempresentasikan roket air yang dibuat, tahapan kedua adalah demonstrasi roket. Nilai tiap tahapan ini secara berturut-turut adalah 20 persen dan 80 persen.
"Untuk demonstrasi roket baru kami adakan esok hari (Selasa, 25/4/2014) di Lapangan Lemjitek TNI AD. Kami memilih tempat ini karena lokasi ini yang paling representatif untuk menerbangkan roket," ungkap Khabib.