Selasa, 9 Juni 2026

Polisi Kembalikan Fungsi Tongkat dan Borgol

"Saya pernah mendapatkan anggota yang tidak bawa tongkat, saya suruh pulang untuk ambil tongkatnya," kata Kasatlantas Polrestabes Surabaya.

Tayang:
Penulis: Haorrahman | Editor: Parmin

SURYA Online, SURABAYA - Entah sejak berapa lama, tongkat dan borgol tidak melekat di tubuh anggota polisi. Padahal tongkat dan borgol merupakat atribut wajib saat mengenakan pakaian dinas. Kini polisi kembali memfungsikan tongkat dan borgol.

Tongkat dan borgol bukanlah hiasan di tubuh polisi. Keduanya memiliki fungsi pertahanan maupun saat menyerang.

Namun, telah lama kedua benda itu digeletakkan saja. Kini ada instruksi resmi dari Mabes Polri, tongkat dan borgol wajib dibawa, bahkan harus melekat di tubuh anggota saat berdinas. Saat ini, ketika Anda melihat polisi terutama Polantas, pasti terdapat tongkat dan borgol di tubuhnya.

"Saya pernah mendapatkan anggota yang tidak bawa tongkat, saya suruh pulang untuk ambil tongkatnya," kata Kasatlantas Polrestabes Surabaya AKBP Raydian Kokrosono, Kamis (20/2/2014).

Saat ini tongkat dan borgol wajib dibawa polisi berseragam. Namun tidak hanya sebagai pajangan, melainkan harus difungsikan sebagaimana mestinya.

"Tongkat dan borgol itu menunjang kinerja kepolisian, bukan sebagai pajangan. Ini sebagai upaya untuk profesionalisme polisi," kata Raydian.

Karena itu, saat ini kepolisian mulai mengoptimalkan kembali fungsi keduanya. Anggota polisi kembali diajarkan untuk menggunakannya.

Di kepolisian terdapat gerakan-gerakan dalam memanfaatkan tongkat dan borgol. Terdapat drill tongkat dan senam borgol.

"Latihan drill tongkat dan senam borgol akan rutin kita berikan pada anggota dua minggu sekali secara bergiliran," kata Raydian.

Gerakan itu bukan hanya sekedar menggerakkan tubuh, namun ada fungsi bertahan dan menyerang.
Seperti di Satpas Colombo, anggota Satlantas Polrestabes Surabaya dilatih drill borgol. Sebanyak 13 anggota Polantas diajarkan kembali gerakan-gerakan drill tongkat.

"Pelajaran ini sebenarnya sudah ada ketika pendidikan, namun memang jarang digunakan," kata Raydian.

Menurut mantan Kepala SPKT Polda Jatim itu, nantinya mereka menjadi instrukstur untuk melatih pada anggota-anggota Satlantas lainnya. Awal dikembalikannya fungsi tongkat dan borgol, banyak anggota yang lupa dengan gerakan itu.

Ipda Sugiyanto instruktur drill tongkat mengatakan, banyak anggota yang lupa gerakan.
"Awal-awal memang lupa, setelah beberapa kali diajarkan, mereka kembali ingat gerakan itu saat masih di pendidikan," kata Sugiyanto.

Menurut Sugiyanto, terdapat 24 gerakan jilid pertama dan 20 gerakan jilid dua. Jilid pertama digunakan untuk pertahanan, sedangkan jilid dua untuk menyerang.

Sugiyanto menjelaskan, khusus di lantas dalam drill tongkat digunakan untuk menindak pelaku kriminal. "Ini digunakan untuk pelaku kriminalitas, bukan pelanggaran lalu lintas,"  kata Sugiyanto.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved