Hamid Nabhan
Sindir Kerusakan Lingkungan lewat Lukisan dan Puisi
Banyak cara mengungkapkan keprihatinan terhadap kondisi lingkungan yang rusak oleh tangan-tangan tak bertanggung jawab.
Penulis: Wiwit Purwanto | Editor: Parmin
SURYA Online, SURABAYA - Banyak cara mengungkapkan keprihatinan terhadap kondisi lingkungan yang rusak oleh tangan-tangan tak bertanggung jawab.
Seperti dilakukan Hamid Nabhan, pelukis kawakan ini menyindir kondisi rusaknya lingkungan dengan lukisan lukisan bertemakan pohon sunyi.
"Ini suatu ungkapan keprihatinan berupa sindiran untuk menyelamatkan pohon-pohon di negeri ini," kata pelukis asal Kampung Ampel ini.
Sindiran pohon sunyi itu digambarkan Hamid di atas kertas canson, dengan tinta mix media, ia juga menggabungkan drawing pen copic dan cat air.
Seperti lukisan berjudul "Pohon Randu Meranggas", lukisan pada media berukuran 18 x 20 cm ini menggambarkan kondisi pohon yang meranggas, sementara di bawahnya rumput tumbuh subur.
Ia juga memberikan gambar dua orang yang sedang berjalan di antara pepohonan yang meranggas itu.
Menurutnya lukisan ini menceritakan sebuah perjalanan anak bangsa, di mana pohon kering kerontang padahal tanahnya subur. Ada pohon besar yang seharusnya rindang, tapi justru tidak bisa mengayomi.
"Inilah pohon sunyi merupakan sindiran tidak adanya keseimbangan alam di negeri ini," ujar pria keturunan Yaman ini.
Karya seni lukis tentang kerusakan lingkungan ini nantinya akan dibuat lengkap dengan untaian puisi yang menceritakan tentang makna lukisan tersebut.
Menurutnya misi membuat karya seni bertemakan "Pohon Sunyi" ini semata-mata untuk menyadarkan masyarakat pentingnya sadar dan tanggap terhadap keseimbangan lingkungan sekitar.
"Lihat saja di tengah kota, berapa banyak pohon yang rusak karena dipaku untuk tempelan poster iklan atau poster caleg atau musibah banjir dan tanah longsor di sejumlah tempat," sebutnya.
Hamid yang mendapat penghargaan dari Yayasan Perupa Indonesia, karena dinilai andil besar dalam memajukan prestasi penggiat sketser di Indonesia ini akan membuat sebanyak 36 lukisan berikut puisinya. Karya ini nantinya juga akan dipamerkan pada Hari Lingkungan Hidup Bulan April mendatang.
Selain melukis Hamid juga kerap menulis buku, seperti Sketsa bahasa ungkapan jiwa, Randu dalam guratan sketsa hamid nabhan, Sketsa lanskap puisi penggunggah rasa dan buku terakhir
Equalibria.