Novita : Mengolah Batik Tuban, Sidoarjo dan Madura
Awalnya saya hanya memproduksi tas dan sepatu, karena respon di pasaran positif akhirnya saya pun menambah koleksi dengan mendesain busana
Penulis: Sri Handi Lestari | Editor: Yoni
SURYA Online,SURABAYA - Trend berbatik tidak lagi sekedar menjadi busana.
Seperti yang ditampilkan desainer Novita Yunus. Berawal dari hobinya berbelanja batik, wanita kelahiran Jakarta 23 November 1971, ini mulai mendesain berbagai tas dengan bahan utama kain wastra nusantara khususnya batik.
“Awalnya saya hanya memproduksi tas dan sepatu, karena respon di pasaran positif akhirnya saya pun menambah koleksi dengan mendesain busana batik, wedges dan beberapa aksesoris,” kata Novi.
Jadi Novi membalik langkah para desainer lain, yang umumnya memangfaatkan kain batik pada fashion busana dulu, baru ke fashion lain seperti sepatu dan tas.
Desain produk batik itu, Novi lebih memilih dengan gaya simpel tetapi elegan. Namun menggunakan bahan baku kain batik yang memiliki kualitas lebih tinggi.
Mengingat produknya ini tidak hanya di pasarkan dalam negeri namun juga di luar negeri seperti Jepang, Belanda dan Amerika.
“Segi desain sederhana, karena saya tidak suka banyak tempelan-tempelan atau akesoris yang berat-berat. Tetapi lebih menonjolkan kain batiknya itu, karena saya tidak hanya sekadar desain tapi juga ada edukasi tentang berbagai motif dari batik itu sendiri,” jelas Novi.
Kain batik yang dipilih Novi, merupakan kain batik dari Tuban, Sidoarjo dan Madura.
Uniknya lagi, batik yang di eksplore oleh Novi biasanya adalah batik yang tidak banyak diketahui oleh masyarakat.
Salah satunya seperti atasan dari kain batik madura berwarna merah marun dengan kombinasi bordir dan bawahan yang hampir senada warnanya tetapi berbeda motif, tampak simple namun tidak mengurangi keanggunan setiap pemakainya.
Selain itu ada pula koleksi atasan batik madura dengan motif yang mirip lurik khas batik jawa tengah maupun bawahan atau rok dengan lipatan-lipatan sedikit mengembang dan warnanya yang klasik yakni batik berwarna coklat.
“Biasanya saya kalau mendesain memang satu paket mulai busana, tas, sepatu sampai aksesorisnya. Meski di sini di jual terpisah, tapi setidaknya ada referensi kalau pakai ini cocoknya kombinasi sama tas kecil warna coklat seperti ini misalnya,” jelas Novu, sambil menunjukkan koleksinya dengan ditemani seorang model.
Untuk mendapatkan kain batik yang berkualitas tinggi, ia rela keluar masuk tempat pembatik untuk mencari batik-batik yang unik dan beragam.
Bahkan jika kain batik dari pembatiknya tidak memenuhi standart, ia biasanya memberi pilihan pada pembatik tersebut.
“Misal kainnya kok luntur, nah saya beritahu ke pembatiknya, kalau kainnya masih mau dibeli maka harus diperbaiki kualitasnya. Karena kan saya tidak hanya mendesain dengan motif yang bagus tapi juga nyaman saat dikenakan,” cerita Novi.
Dalam karirnya bergelut dengan kain batik, Novi pernah mendapatkan penghargaan dari UNESCO untuk produknya yang bernama “Ulap Doyo Slipper”.
Produk berupa sepatu ini menjadi unik dan langka karena ulap doyo merupakan jenis kain khas kalimantan yang berasal dari serta anggrek hitam.