Sabtu, 11 April 2026

Tumpeng Raksasa Sambut Maulid Nabi

Terbuat dari Ketan sebagai Simbol Eratnya Silaturahmi

Kenapa ketan yang dipakai tumpeng? “Ketan itu kan lengket. Jadi lengketnya ketan itu sebagai simbol dari jalinan silaturahim yang erat."

Penulis: Anas Miftakhudin | Editor: Parmin

SURYA Online, SIDOARJO - Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Al Ikhlas di kompleks Perumahan Bluru Permai, Desa Bluru Kidul lain dari biasanya. Warga sekitar membikin tumpeng raksasa setinggi 3 meter dengan diameter 2,4 meter yang ditaruh di depan pintu utama masjid, Selasa (14/1/2014).

Tumpeng raksasa itu menghabiskan 2 kuintal ketan dan 100 biji kelapa. Bahan-bahan itu diperoleh dari urunan seluruh warga di lingkungan perumahan. Kelapa tersebut diparut untuk campuran saat ketan raksasa dikonsumsi bersama.

 “Setiap satu RT memberi 5 kg ketan dan di lingkungan perumahan ada 38 RT yang terdiri dari 4 RW,” tutur Ketua Ta’mir Masjid Al Ikhlas H Zainul Anis.

Sementara untuk memasak ketan tidak difoskuskan dalam satu lokasi saja. Namun, di setiap RT ibu-ibu memasak sendiri dan setelah ketan sudah masak dibawa ke masjid untuk ditempelkan bersama.
Pengerjaan tumpeng raksasa  itu dilakukan sejak siang hingga setelah shalat Ashar. Ketika Surya Online ke Masjid Al Ikhlas, ibu-ibu tengah menata parutan kelapa yang diberi warna kuning, hijau, dan putih tengah ditata di tepi tumpeng raksasa.

Menurut Zainul Anis, ide membikin tumpeng raksasa itu muncul saat Perayaan Tahun Baru Islam beberapa waktu lalu. Karena selama ini, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dirayakan dengan pengajian umum dan dihadiri seluruh masyarakat. Namun untuk lebih menyatukan masyarakat di seluruh area perumahan akhirnya ada gagasan membikin tumpeng raksasa.

Kenapa ketan yang dipakai tumpeng bukan dari beras kuning? “Ketan itu kan lengket. Jadi lengketnya ketan itu sebagai simbol dari jalinan silaturahim yang erat. Ketan sendiri saat ditempelkan menjadi tumpeng saling mengait sehingga jalinan silaturahim ini jangan sampai terputus,” tandasnya.

Selama membikin tumpeng, komunikasi antarpengurus dan bahan yang dibutuhkan tidak ada kendala. Namun yang menjadi kendala diakui Zainul Anis adalah konstruksi saat tumpeng didirikan. Karena tumpengnya sendiri setinggi 3 meter apakah tidak rontok saat ditata nanti. “Nah dari situ sesama pengurus akhirnya rembugan untuk membikin konstruksi dan diputuskan dari besi dan di tengahnya diberi aluminium. Tebal tumpeng raksasa yang melingkari sekitar 2-3 cm,” jelasnya.

Dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, tidak hanya dilengkapi tumpeng raksasa. Namun di sekeliling tumpeng raksasa juga dibikin tumpeng dari nasi kuning dengan ukuran biasa. “Tumpeng nasi kuning tetap melengkapi  dan nanti tumpeng raksasa dimakan bersama warga setelah acara dzikir dan shalawat bersama,” terang Zainul Anis.

Warga sekitar Perumahan Bluru Permai usai shalat Maghrib langsung berkumpul di masjid untuk melakukan dzikir dan membaca sholawat nabi hingga shalat Isya’. “Nah setelah shalat Isya’ tumpeng raksasa ini dinikmati bersama,” paparnya.

Tahun depan, kata Zainul Anis berencana membikin tumpeng raksasa yang lebih besar lagi. “Mungkin ketinggiannya nanti antara 4 sampai 5 meter. Kan sekarang masih dalam tahap pertama,” paparnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved