Dua Eskalator Pasar Besar Madiun Rp 1,2 Miliar Hanya untuk Naik

Dua unit eskalator yang dioperasikan itu hanya untuk ke lantai atas. Sedangkan untuk turun, pengunjung tetap menggunakan tangga manual.

Dua Eskalator Pasar Besar Madiun Rp 1,2 Miliar Hanya untuk Naik
Satu dari dua ekskalator di Pasar Besar Madiun, Senin (30/12/2013).

SURYA Online, MADIUN - Proyek pengadaan eskalator di bagian tengah barat dan timur bangunan Pasar Besar Madiun (PBM), Kota Madiun tergolong aneh. Pasalnya, dua unit eskalator yang dioperasikan itu hanya untuk ke lantai atas. Sedangkan untuk turun, pengunjung dan pedagang tetap dipaksa menggunakan tangga manual.

Pedagang dan pengunjung menganggap hal ini sebagai pengadaan yang muspro alias tidak bisa dimanfaatkan secara maksimal. Pasalnya, kedua unit eskalator yang telah beroperasi itu kedua-duanya hanya untuk naik.

Berdasarkan pantauan di lapangan, pasar tradisional dengan bangunan semi modern ini masih tampak kumuh dan kotor. Selain itu, sejumlah barang dagangan diletakkan di lorong jalan. Kondisi ini mempersempit jalan dan membuat pengunjung maupun pedagang kesulitan melintas di jalan antar kios itu.

Salah seorang pengunjung PBM, Ny Nurul (30) mengatakan jika penambahan 2 unit eskalator yang digunakan dan dioperasikan dengan sistem untuk naik saja dianggap tidak ada manfaatnya. Dia menduga pemasangan dan penambahan fasilitas itu, tidak berdasarkan pada kebutuhan di lapangan.

"Pasti tak melihat kebutuhan pengunjung dan pedagang. Lha ada dua eskalator, kedua-duanya hanya bisa naik saja. Untuk turun kami tetap menggunakan tangga manual. Ini kan kesannya aneh penambahan 2 eskalator ini," terangnya kepada Surya Online, Senin (30/12/2013) di sela-sela peresmian pembangunan PBM Jilid II yang menelan anggaran Rp 12,1 miliar itu.

Hal sama disampaikan, Ny Suparti (45). Menurutnya, penambahan dua eskalator terkesan muspro. "Kami anggap penambahan eskalator ini aneh, karena kedua-duanya untuk naik semuanya. Untuk turun tetap kami menggunakan tangga biasa (manual)," ucapnya.

Diketahui, selain dua eskalator yang hanya bisa berjalan naik, pengunjung dan pedagang hanya bisa menggunakan dua eskalator impor tersebut pada siang hari. Sebab, saat malam hari, eskalator itu tidak difungsikan. Apalagi, pengadaan eskalator yang dikerjakan CV Candra Berkah Abadi (CBA) senilai Rp 1,2 miliar tersebut, masih menggunakan sistim manual dan merek yang digunakan dianggap bukan merek terkenal. Akibatnya, jika digunakan pada siang dan malam hari, akan membuat pemborosan listrik.

Bangunan PBM sempat terbakar Tahun 2008 lalu. Saat itu pedagang merugi miliaran rupiah. Kemudian pedagang dipindah ke pasar penampungan smentara di Stadion Wilis Kota Madiun.

Kemudian, PBM dibanggun kembali Tahun 2010. Pembangunan PBM jilid I berlantai tiga menelan anggaran Rp 76 miliar bersumber dari APBD Pemkot Madiun.Proyek PBM Jilid I sempat mengalami masalah lantaran manajer proyek PT Lince Romauli Raya (PT LRR), Musa Supriyanto dan Abdul Azis kabur.

Selain itu, tim penyidik Kejaksaan Negeri (Kejari) Madiun sempat turun tangan untuk menyelidiki pembangunan PBM jilid I itu. Namun,akhirnya dihentikan karena penyidik Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Timur di Surabaya menilai penyelidikan pembangunan PBM masih dinilai prematur.

Halaman
12
Penulis: Sudarmawan
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved