Breaking News:

Perajin Perhiasan Emas Sunan

Konon perajin perhiasan emas Sendang Duwur dan Sendang Agung ini warisan turun temurun seorang Sunan. Siapa?

Perajin Perhiasan Emas Sunan
Aflahul Abidin

Oleh : Aflahul Abidin 
Mahasiswa Universitas Islam Darul Ulum Lamongan
aflahulabidin2@gmail.com

Laki-laki berkumis tebal itu duduk di depan meja kecil yang dipenuhi gunting, tang, dan peranti lainnya. Matanya tajam mengarah ke meja. Tangannya bergerak pelan memegang alat patri, tepat di bawah sinar lampu neon, meski saat itu hari terang benderang. Ia tekun menyambungkan kawat kecil emas menjadi sebuah kalung.

Nur Halim (50), selama 28 tahun menjadi perajin emas. Sama seperti warga Desa Sendang Duwur dan Sendang Agung, Kecamatan Paciran, Lamongan, mereka berprofesi sebagai perajin emas. Nur Halim spesialis perhiasan kalung. Jenis pekerjaan yang tak hendak ditinggalkannya. selama mata masih terang, Nur Halim bertekat menekuni profesinya itu. Maklum, banyak rekannya yang memilih menjadi petani saat permintaan perhiasan emas sepi.

Puncak ramai pesanan emas, menurutnya, berbanding lurus dengan panen tembakau di Kota Bojonegoro. Biasanya setelah panen, banyak petani tembakau dari Bojonegoro tersebut membeli perhiasan emas untuk investasi ala orang tua zaman dulu.

Di tengah maraknya perhiasan emas dari pabrik yang dikerjakan dengan peralatan yang canggih, Nur Halim masih mengandalkan alat-alat manual. Palu, tang, gunting, pencapit, dan mesin patri menjadi senjatanya. Kecuali mesin patri yang cepat aus, peranti kerjanya umumnya barang tua, berwarna kehitaman tanda sudah dimakan usia.

Biasanya, Nur Halim memulai kerjanya dengan memipihkan emas-emas batangan berkadar 24 karat yang dipecah kecil-kecil memakai palu, kemudian dilebur. Lelehan emas dibentuk berdasar jenis yang ingin dibuatnya. Untuk membuat kalung, lelehan emas dibentuk menjadi kawat-kawat kecil nan panjang.

Kawat-kawat itu selanjutnya dihaluskan, dipotong membentuk pola, dirangkai dan dipatri. Proses perangkaian dan pematrian merupakan proses yang butuh kejelian mata. Itu sebabnya, perajin emas sangat bergantung dengan kondisi matanya, aku Nur Halim. Proses terakhir adalah pengikiran dan pencucian kalung.

Kerajinan emas sudah menjadi profesi turun-temurun di Desa Sendang Duwur dan Sendang Agung. Para perajin yang saat ini masih bertahan, telah melihat proses pembuatan perhiasan emas sejak zaman nenek buyut mereka. Konon, kerajinan emas pertama kali dibawa oleh Sunan Sendang Duwur sekitar Abad ke-15. Sejak saat itu, mayoritas penduduk laki-laki belajar membuat perhiasan. Setelah mahir, mereka menjadi perajin perhiasan, hingga kini.

Editor: Tri Hatma Ningsih
Sumber: Surya Cetak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved