Senja sang Penyadap Nira

Di usia senjanya, Suwanu tak hendak berpangku tangan, ia masih lincah memanjat pohon siwalan menyadap nira...

Senja sang Penyadap Nira
Aflahul Abidin

Oleh : Aflahul Abidin
Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Islam Darul Ulum Lamongan
aflahulabidin2@gmail.com

Suwanu (65) mengayuh sepeda jengki tuanya dengan penuh tenaga. Di usia senjanya, Suwanu tak hendak beristirahat. Ia masih giat bekerja sebagai penyadap nira. Jarak satu kilo meter dari rumah menuju ladang siwalan ditempuhnya dengan kayuhan mantap.

Begitu tiba di ladang ia segera menyiapkan belasan bumbung penampung nira di pohon yang akan ia panjat. Sejumlah bumbung sudah terpasang sejak kemarin sore dan hari ini siap ia turunkan. Dua 'senjata' andalan ia pasang di lingkar perutnya yang kurus. Sebilah golok dan sebuah pengait dari potongan bambu. Golok untuk memotong mayang siwalan.Pengait yang biasa disebut cangkrian untuk menaikturunkan bumbung dari pohon siwalan.

Bertelanjang dada dan badan terbungkuk, Suwanu berjalan menuju pohon siwalan yang akan ia panjat. Sekitar 15 menit Suwanu di pohon siwalan, mengganti bumbung yang sudah terisi legen dengan bumbung baru. Entah apa lagi yang dilakukannya di atas sana hingga butuh waktu cukup lama. Mungkin perlu rehat sejenak. Mungkin menikmati pemandangan laut lepas dari atas pohon siwalan. Maklum, ladang siwalan di Paciran memang berbatasan langsung dengan laut.

Hari ini kurang bersahabat bagi Suwanu. Dari delapan bumbung yang ia bawa turun, hanya dua liter legen yang ia dapat. Biasanya ia membawa turun empat hingga lima liter legen. Matahari mulai meninggi, sinarnya menembus sela daun-daun siwalan. Suwanu masih harus memanjat pohon siwalan yang lain. Baru pukul 10.00 nanti, ia akan kembali ke gubuk, menyimpaan legen, dan beristirahat.

Kini matahari sudah benar-benar di atas kepala. Panasnya menyengat. Udara di pesisir Paciran terkenal cukup panas, berteduh dalam gubuk pun masih terasa gerah. Saat seperti ini, digunakan Suwanu untuk makan bekal yang dibawanya dari rumah. Menunggu sore, saat ia memanjat lagi pohon-pohon siwalan itu.

Di antara para penyadap nira di Paciran tidak banyak yang seusia Suwanu. Toh semangatnya bekerja belum pudar. Selama masih kuat memanjat pohon siwalan, ia akan terus menyadap nira dan membagikan segarnya pada pembeli.

Sumber: Surya Cetak
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved