Liputan Khusus Stok Kadaver Terbatas
Mahasiswa Dilarang Foto Alay di Depan Kadaver
Ada tiga paket materi yang mereka kerjakan dengan media kadaver.
SURYA Online, SURABAYA - Ada etika lain yang harus ditaati mahasiswa. Mereka tidak diperkenankan mengambil foto mayat sampai proses pembedahan berjalan.
Foto mayat saja dilarang, apalagi foto alay di depan mayat.
Bagi yang melanggar etika itu, sanksi dari kampus sudah pasti menunggu.
Empat bulan lamanya Lukman Hakim Andira, mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) Unair, berurusan dengan mayat.
Ada tiga paket materi yang mereka kerjakan dengan media kadaver.
Pertama, mereka harus belajar mengenali alat gerak di tubuh manusia.
Lalu, organ seperti jantung, paru-paru, dan saluran pencernaan. Yang terakhir adalah otak yang berkaitan dengan syaraf.
Dari belasan kadaver yang dibagikan ke kelompok, kebanyakan merupakan mayat laki-laki.
Dalam satu kelas, hanya ada sekitar dua kadaver perempuan.
Lukman mengaku tidak mengetahui kenapa lebih banyak mayat tanpa identitas berkelamin laki-laki, dibanding perempuan.
“Bingung ya. Kenapa kok yang mati tanpa identitas itu kebanyakan laki-laki,” katanya menerka-nerka.
Yang menarik, Lukman mengakui teman kelasnya yang perempuan lebih berani membedah mayat.
Padahal, dia sempat memandang mahasiswa tidak akan seberani laki-laki dalam membedah kadaver.
“Mungkin karena bedah anatomi ini termasuk ujian, jadi mereka rajin dan cermat sekali,” tandas Lukman.
Karena hanya dijatah satu kadaver untuk satu kelompok, Lukman dan kelompoknya sangat berhati-hati saat membedah.
Salah bedah akan berdampak merusak banyak jaringan.
“Kalau salah iris, bisa merusak arteri, vena, dan nervous.
Saat urusan perkuliahan tuntas, kadaver harus dimakamkan secara layak.
Di FK Unair, pemakaian kadaver hanya sekali pakai.
Kampus lantas harus mencari kadaver lagi untuk mahasiswa baru. (idl)