Selasa, 2 Juni 2026

Bangkalan Tempat Bibit Alami Bonsai

Menurut pria asal Malang ini, Bangkalan sudah lama menjadi daerah terkenal di dunia perbonsaian dengan mutu yang sangat bagus.

Tayang:
Penulis: Ahmad Faisol | Editor: Heru Pramono

SURYA Online, BANGKALAN - Kontes bonsai tingkat Madya yang digelar di Alun-alun Kota Bangkalan, Selasa (8/10/2013) hingga Sabtu (15/10/2013) mendapat respon positif dari kalangan pecinta pohon mini itu. Termasuk juri kelas Madya, Karyono Gembyak.

Menurut pria asal Malang ini, Bangkalan sudah lama menjadi daerah terkenal di dunia perbonsaian dengan mutu yang sangat bagus.

"Di sini (Bangkalan) merupakan tempat alami bonsai. Lahan tandus dan pegunungan, sudah pasti banyak ditumbuhi pohon kerdil," ungkap Karyono Gembyak di sela-sela penilaian terhadap 170 bonsai yang dikonteskan.

Ia mengatakan, kualitas bonsai di Kabupaten Bangkalan mampu bersaing dengan bonsai-bonsai yang ada di Jawa Timur. Tak heran, jika tanaman bonsai yang dikonteskan itu dikelompokkan kelas menengah ke bawah.

"Sebetulnya mereka (pencinta bonsai) sudah lama 'tidur'. Akhirnya mereka kembali dalam sebuah pameran," katanya.

Ia menambahkan, penilaian kontes bonsai ini tidak didasarkan pada proses pembuatan melainkan pada hasil akhir.

"Kelas bonsai yang dipamerkan sekarang kelas menengah ke bawah, madya, regional, dan prospek (kelas terbawah)," tandas juri  yang pernah ikut penataran bonsai di Bali pada tahun 2005 itu.

Ketua Pelaksana Kontes Bonsai Mohammad Efendi menyatakan, peserta kontes berasal dari hampir seluruh kota yang ada di Jawa Timur. Termasuk dari empat kabupaten di Madura.

"Kontes ini diadakan untuk mengenalkan kembali bonsai yang sempat menghilang dalam beberapa tahun terakhir. Kami sebagai komunitas pecinta seni bonsai harus berani menunjukkan hasil karya seni," katanya.

Pria yang juga menjabat sebagai Ketua Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI) itu berpendapat, kondisi dan pemanfaatan lingkungan belakangan ini telah mengesampingkan habitat pohon kerdil yang dianggap sebagai benalu atau pun pengganggu tanaman lain.

"Padahal bisa dimanfaatkan sebagai karya seni yang mempunyai daya tarik tinggi. Termasuk mampu membuka lapangan kerja baru," tutur pria yang akrab disapa Pepeng ini kepada Surya Online.

Pepeng yang sudah menggeluti dunia bonsai sejak tahun 1990 itu mempunyai kurang lebih 150 bonsai di rumahnya. Tidak cukup hanya dengan merawat tapi juga harus bisa menimbulkan rasa sayang terhadap pohon.

"Kecukupan air harus terjaga. Terpenting selalu mengontrol media tanam (tanah). Ada yang harus diganti tiga bulan sekali, ada juga tanahnya yang diganti tiga tahun sekali," pungkas Pepeng yang pernah menjual bonsai seharga Rp 150 juta itu.

Tags
Kontes
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved