Lipsus Investasi
Ramai-ramai Promo Reksadana
Minimnya jumlah masyarakat Indonesia yang belum tertarik berinvestasi karena minimnya edukasi.
Penulis: Eben Haezer Panca | Editor: Tri Dayaning Reviati
SURYA Online, SURABAYA - Minat masyarakat Indonesia untuk berinvestasi masih terbilang rendah dibandingkan negara-negara tetangga. Di Singapura misalnya, lebih dari 60 persen masyarakatnya telah terkoneksi dengan industri keuangan. Di Tanah Air, berdasarkan sejumlah riset, baru sekitar 10 persen yang telah melakukan investasi.
Kondisi itu menjadi peluang sekaligus tantangan bagi industri keuangan untuk lebih gencar mengundang investor baru guna membuang kelebihan dana ke berbagai produk. Hal itu cukup mungkin dilakukan mengingat pertumbuhan ekonomi, terutama di Jawa Timur, yang melejit cukup signifikan.
Perencana Keuangan dari Finansia Consulting, Eko Endarto mengatakan, minimnya jumlah masyarakat Indonesia yang belum tertarik berinvestasi karena minimnya edukasi. Pihaknya harus memperkenalkan lebih dahulu produk investasi yang bisa membuat mereka merasakan gejolak di dunia investasi.
“Untuk masyarakat yang belum teredukasi secara baik tentang investasi di pasar modal, bisa diajarkan dulu tentang reksadana. Dari situ mereka bisa merasakan naik turunnya investasi dalam skala yang lebih ringan ketimbang langsung berinvestasi di saham,” ujar Eko di sela 'Indonesia Financial Expo & Forum (IFEF) 2013, Minggu (29/9/2013).
Head of Operation and Business Development PT Panin Asset Management yang juga Pengamat Pasar Modal, Rudiyanto menambahkan, masyarakat masih belum well educated (teredukasi secara baik) tentang investasi. Gambarannya, kalau di Singapura, delapan dari 10 orang sudah berinvestasi, maka di Indonesia sekitar satu dari 1.000 orang saja yang sudah berinvestasi.
Karena masyarakat belum teredukasi secara optimal, Panin Asset Management gencar menggelar sosialisasi dan edukasi, terutama di kota-kota yang potensial seperti Jakarta dan Surabaya. Hingga akhir 2013, mereka telah menyiapkan serangkaian agenda sosialisasi di kedua kota tersebut.
Dari rangkaian sosialisasi tersebut, hingga akhir tahun Panin Asset Management menargetkan penambahan investor ritel (individu) di produk reksadana, bertambah antara 3.000 hingga 4.000 orang. Saat ini, jumlah investor tercatat sekitar 30.000 orang. Dari jumlah itu, 98 persen adalah investor ritel, sisanya investor korporat.
“Meski jumlah investor ritel lebih banyak, dana kelolaan kami paling besar masih berasal dari investor korporat,” terang Rudiyanto.
Hingga akhir Agustus 2013, jumlah dana kelolaan yang dihimpun Panin Asset Management telah mencapai Rp 13,4 triliun dari target akhir tahun antara Rp 16 triliun hingga Rp 18 triliun.
Bagi Panin Asset Management, potensi pertumbuhan iklim investasi reksadana di Surabaya cukup tinggi. Sekadar gambaran, dia bilang, tingkat kenaikan harga properti di Surabaya lebih tinggi ketimbang Jakarta. Hal ini menunjukkan kemampuan daya beli masyarakat di Surabaya cukup tinggi.
“Di Surabaya banyak laporan tentang investasi bodong. Itu artinya keinginan masyarakat untuk investasi sebenarnya sudah ada,” paparnya.
Putut E Andanawarih, Director Business Development PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI berkata, pihaknya juga semakin gencar melakukan edukasi tentang investasi reksadana. Bahkan, selama tiga hari ajang IFEF 2013, yakni 27-29 September 2013, tak fokus menjual produk.
“Kami tidak agresif jualan selama IFEF, tapi kami justru fokus melakukan edukasi investasi ke masyarakat. Di Surabaya sendiri, potensinya saya rasa cukup tinggi untuk pertumbuhan investasi reksa dana. Makanya kami ikut pameran itu (IFE2013),” tandas Putut.