Jumat, 1 Mei 2026

IMPALA UB akan Menyibak Misteri Gua Pulau Seram

Tujuh anggota Ikatan Mahasiswa Pecinta Alam (IMPALA) Universitas Brawijaya (UB) akan menyibak misteri gua-gua di Pulau Seram, Maluku.

Tayang:
Penulis: Irwan Syairwan | Editor: Parmin

SURYA Online, MALANG – Tujuh anggota Ikatan Mahasiswa Pecinta Alam (IMPALA) Universitas Brawijaya (UB) akan menyibak misteri gua-gua di Pulau Seram, Maluku, saat mengadakan Ekspedisi Nusantara Taman Nasional Manusella Pulau Seram (TNMPS), 21 September – 20 Oktober 2013.

Ketujuh caver (penjelajah gua) IMPALA UB ini adalah Dewi Mar’a, Ardin Makarim, Ermawati, Ani Saputri, Nurul Dwi, Henry Yuli, dan Reza Tricahya.

Dewi mengatakan, ekspedisi ini untuk mencari potensi-potensi karst di TNMPS. Pada penjelajahan ini, caver IMPALA UB juga akan membuat peta lokasi gua dan menginventarisir kehidupan hayati di dalam gua.

“Hasil ekspedisi kami ini berupa data-data temuan kami saja. Tapi data-data ini bisa diteruskan untuk penelitian berbagai cabang ilmu nantinya,” kata Dewi kepada Surya online, saat ditemui di Sekretariat IMPALA UB sebelum berangkat ke SUrabaya, Jumat (20/9/2013).

Bagi Dewi, kegelapan gua bukan sesuatu hal yang menakutkan. Justru mahasiswi jurusan Sastra Inggris asal Malang ini, lebih takut kegelapan di ruang terbuka ketimbang kegelapan abadi di bawah palung-palung bumi.

“Saya tahu, kegelapan yang saya eksplorasi di gua itu tidak sembarangan orang yang bisa datang. Justru saya merasakan keheningan yang agung dan merasa diri ini kecil di hadapan Tuhan,” ujar Dewi.

Ardin Makarim menambahkan dari tujuh cave IMPALA UB yang melakukan ekspedisi, lima di antaranya adalah perempuan. Mahasiswi jurusan Sastra Jepang ini mengungkapkan anggota perempuan IMPALA UB memang banyak yang mendalami divisi caving (kegiatan menjelajah gua).

“Kami sudah banyak memetakan potensi gua di Malang Selatan, Tulungagung, hingga Kebumen. Kami ingin lakukan ekspedisi yang lebih besar karena gua-gua yang ada di TNMPS ini masih belum tersentuh manusia, bahkan tak bernama,” imbuh Ardin.

Bagi Ardin menyusuri kegelapan di bawah bumi memiliki kesulitan yang tak kalah menantang dari kegiatan alam lain. Membuat peta gua, dan menemukan hewan-hewan unik jadi oleh-oleh yang takan terlupakan.

“Apalagi kalau hewan yang kami temukan ini tidak pernah terdaftar di Animal Kingdom. Saya pikir, laki-laki atau perempuan tidak masalah caving, selama melakukannya dengan prosedur dan perlengkapan,” ucapnya.

Sementara itu Pembantu Rektor III UB, IR HRB Ainurrasyid, menuturkan akan memberikan asuransi kepada tujuh caver IMPALA UB. Bahkan rektorat memberi bantuan dana hampir separuh total biaya yang mencapai Rp 100 juta ini.

“HAsil dari anak-anak saya ini nanti bisa juga buat penelitian lanjutan untuk mahasiswa atau dosen UB yang lain,” tandas Ainurrasyid.

Ainurrasyid mengaku salut dengan keberanian caver IMPALA UB di mana ada lima orang perempuan yang terjun di ekspedisi ini.

“Kampus selalu mendukung kegiatan-kegiatan mahasiswa yang positif dan bermanfaat bagi masyarakat. Saya dengar, gua yang akan ditelusuri ini masih virgin. Artinya bisa berguna untuk mengetahui ada apa di sana,” pungkasnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved