Breaking News:

Puluhan Penyamak Kulit Tak Berizin Mencemari Lingkungan

Itu akal-akalan mereka saja (Kemasaliku), tidak ada warga yang mengeluh. Kami tiap bulan juga membantu kas RT

Puluhan Penyamak Kulit Tak Berizin Mencemari Lingkungan
Sungai dan selokan di Desa Mojopurno, Kecamatan Ngariboyo, Kabupaten Magetan berwarna putih berbuih, berbau busuk dan berbelatung. Pencemaran lingkungan dampak dari 43 perusahaan penyamakan kulit tidak berizin ini sudah dilaporkan kepada bupati, namun tidak mendapat tanggapan. Akibatnya warga setempat banyak yang terserang penyakit kulit dan inspeksi saluran pernafasan atas (Ispa).

SURYA Online, MAGETAN-Bertahun tahun warga Desa Mojopurno, Kecamatan Ngariboyo, Kabupaten Magetan terganggu limbah kimia yang ditimbulkan dari sebanyak 43 perusahaan penyamakan kulit didesa setempat.

Limbah kimiawi dari penyamakan kulit yang dibuang ke sungai dan parit didesa setempat tanpa melalui proses sterilisasi terlebih dahulu. Akibatnya banyak warga setempat yang terserang penyakit kulit dan paru (inspeksi saluran pernafasan atas/ISPA).

"Anak saya bayi meninggal terkena penyakit paru, mungkin akibat dari polusi yang ditimbulkan dari pembuangan limbah kimia pemyamakan kulit itu,"ujar Mul, sekrataris Kelompok Masyarakat Korban Limbah Kulit (Kemasaliku) Desa Mojopurno, Kecamatan Ngariboyo, Kabupaten Magetan kepada Surya, Senin (2/9/2013).

Menurut Mul, penyemaran lingkungan akibat limbah kimia hasil dari penyamakan kulit itu sudah berlangsung bertahun tahun dan sudah dilaporkan ke berbagai instansi, bahkan sampai kepada Bupati Magetan.

Namun, tidak pernah mendapat tanggapan. Malahan perusahaan penyamakan kulit yang beroperasi tanpa izin itu tetap melakukan pembuangan limbah langsung ke sungai dan parit desa setempat.

"Sudah berulang kali, warga masyarakat disini menemui pemilik pabrik itu. Namun dari pertemuan ke pertemuan nyatanya tidak membuahkan hasil. Bahkan Pemerintah Kabupaten dan Provinsi sudah kami lapori, tapi juga tidak ada tindakan,"kata Mul

Hal yang sama juga dikatakan Ketua Kemasaliku Tri Suwarni, polusi udara dan limbah kimiawi yang diterima warga ini sudah berlangsung lama sekali, selain berdampat langsung bagi kesehatan warga masyarakat setempat, polusi udara dan limbah kimiawi itu juga sudah me  rusak alam didesa setempat.

"Diamnya warga disini ini bom waktu. Kalau pemilik puluhan pabrik tanpa izin itu tidak segera memperbaiki, saya kuatri akan terjadi aksi massa. Karena dampak dari polisi udara dan limbah hasil proses penyamakan kulit itu sudah mengganggu kehidupan warga. warga dan lingkungan jadi tidak sehat karena limbah itu,"jelas Tri Suwarni.

Tri Suwarni berharap, pemilik perusahaan penyamakan kulit itu bisa segera memperbaiki sistem pembuangan limbah proses penyamakan kulit, agar tidak mengganggu kesehatan masyarakat dan alam setempat.

"saya dan warga berharap, usaha kulit tetap berjalan dan kehidupan warga disini bisa bebas dan sehat, begitu juga dengan lingkungan. Karena itu, pengusaha dan pemerintah kabupaten dan provinsi, bisa membangun unit pengolah air limbah (UPAL). Biar limbah tidak dibuang begitu saja tanpa diolah seperti sekarang ini,"katanya sambil mengatakan, warga akan mendatangi Bupati Magetan dan Gubernur Jatim dalam waktu dekat.

Halaman
12
Penulis: Doni Prasetyo
Editor: Satwika Rumeksa
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved