Liputan Khusus Edisi Kemerdekaan
Jejak Soekarno di Kediri Tak Tercatat di Buku Sejarah
Buku-buku biografi yang terbit, saat Bung Karno masih hidup dan berkuasa, juga sama sekali tidak menyinggungnya.
SURYA Online, KEDIRI - RM Soemosewojo lalu mengobati Soekarno yang sering sakit-sakitan. Berdasarkan bisikan spiritual Soemosewojo, untuk kesembuhan penyakit Koesno ada dua persyaratan yang perlu dipenuhi R Soekemi.
Pertama nama Koesno yang diberikan saat lahir harus diganti.
Nama yang diberikan saat lahir di Surabaya ini dinilai tidak cocok dengan weton (hari kelahiran) sang bayi.
Syarat kedua, R Soekemi harus merelakan Koesno menjadi anak angkat sang dukun, R Soemosewojo.
Syarat itu disetujui oleh RM Soekemi. Belakangan nama Koesno Sosrodiharjo diganti menjadi Soekarno.
Bung Karno sendiri lebih senang dengan namanya ditulis dengan ejaan Sukarno, bukan Soekarno.
Ejaan Soe dianggapnya berbau Belanda. Namun ia tidak bisa menggunakan nama Sukarno karena dokumen formal, termasuk naskah proklamasi yang ditandatanganinya menggunakan ejaan Soekarno.
Cerita dan jejak Soekarno di Kediri agak mengejutkan. Maklum sama sekali tidak pernah tercatat dalam buku sejarah.
Buku-buku biografi yang terbit, saat Bung Karno masih hidup dan berkuasa, juga sama sekali tidak menyinggungnya.
Kondisi ini berbeda dengan jejak Soekarno yang ditelusuri tim Surya di tempat lain. Umumnya ada literatur lama yang menjadi penjuknya.
Misalnya, rumah tempat lahir Bung Karno di Jl Pandean IV/40 Surabaya, lalu rumah masa kanak-kanak saat diasuh kakeknya di Tulungagung, dan dua rumah anak-anak dan menjelang remaja bersama orang tuanya di Mojokerto.
Jejak ini terekam dalam literatur dan buku-buku biografi lama. Buku dan biografi yang memang lama terpendam selama pemerintahan orde baru.
Buku biografi karya Cindy Adams misalnya, hanya bercerita Soekarno kanak-kanak sempat diasuh kakeknya di Tulungagung.
Penelusuran Surya menemukan rumah petilsan di Tulungagung, yang sudah berubah jadi bengkel dan tidak terawat.
Dari Tulungagung, kakeknya kemudian mengembalikannya Mojokerto, tempat ayahnya berdinas sebagai manteri guru (kepala sekolah). (dim/ian)