Tradisi Sangu Saat Lebaran Ceriakan Anak-anak
Budaya memberikan sangu, Bahasa Jawa dari uang saku, terjadi di sejumlah tempat di Indonesia ketika Lebaran
Penulis: Sri Wahyunik | Editor: Satwika Rumeksa
SURYA Online, BANYUWANGI-Hari Raya Idul Fitri bisa dibilang masa panen anak-anak. Sebutan ini tidaklah terlalu aneh jika melihat uang saku alias angpao yang mereka dapatkan ketika lebaran.
Budaya memberikan sangu, Bahasa Jawa dari uang saku, terjadi di sejumlah tempat di Indonesia ketika lebaran Idul Fitri. seperti jamak terlihat di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.
Orang memberikan sangu kepada anak-anak menjadi pemandangan umum di Desa Sumberasri Kecamatan Purwoharjo Kabupaten Banyuwangi. Bahkan untuk mempersiapkan sangu untuk anak kecil itu, para orang tua sudah berburu uang pecahan baru sejak sebelum bulan Ramadan dan selama bulan itu.
Mereka ada yang menukar uang pecahan di masjid-masjid, toko, juga perbankan. Hj Khotimah, seorang nenek berusia 75 tahun asal Desa Sumberasri, misalnya. Perempuan sepuh itu memburu uang pecahan Rp 10.000, Rp 5.000 dan Rp 2.000.
Uang pecahan itu diberikan kepada anak kecil mulai dari balita hingga yang berusia belasan tahun, yang bersilaturahmi ke rumahnya. HIngga hari ke-4 lebaran, Minggu (11/8/2013) hanya tersisa uang pecahan Rp 2.000. "Duit Rp 5.000 dan Rp 10.000 hanya tinggal sedikit. Uang Rp 2.000 masih satu bendel (Rp 200.000)," ujarnya.
Anak kecil yang diberi mulai dari yang punya hubungan kekerabatan dengannya seperti cucu dan buyut, serta juga anak tetangga dan saudara jauh. "Syarat hari raya begitu, yang tua ngasih sangu kepada anak-anak," ujarnya dalam Bahasa Jawa.
Ia menceritakan ketika leluhurnya bermukim di desa itu sekitar tahun 1925, kakek - neneknya mempunyai uang logam sebanyak satu tembikar.
Oleh leluhur yang mempunya ajaran agama kuat, diminta uang itu diberikan kepada saudaranya sebagai bentuk sedekah. "Tidak tahu satu tembikar itu seberapa. Uangnya masih sen. Terus ditiru bapak ibu, sampai sekarang," imbuhnya.
Tradisi memberi sangu tidak hanya dilakukan oleh mereka yang mampu. Warga yang tergolong kurang mampu, seperti para penerima beras miskin ataupun Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) juga memberikan.
Ny Taspiah, warga Desa Sumberberas Kecamatan Muncar, Banyuwangi, misalnya tetap memberikan uang saku kepada cucu dan saudara dekatnya.
"Meski sedikit tidak apa-apa, sebagai syarat," ujarnya sambil
tersenyum.
Tradisi itulah yang membuat sejumlah anak kecil tersenyum ketikalebaran. Uang saku juga membuat mereka makin bersemangat bersilaturahmi. Tidak aneh, seorang anak bisa mendapatkan uang saku ratusan ribu dalam sehari.
M Lazuardi (6) misalnya. Anak kecil asal Surabaya yang mudik ke Desa Sumberasri itu mendapatkan uang saku sebesar Rp 500.000 selama tiga hari. Begitu juga adiknya Ahmad Najmy (3). "Nanti uangnya ditabung untuk sekolah," ujar Lazuardi sambil tertawa.
Zuhrotul, sepupuh Lazuardi yang asli Desa Sumberasri juga mendapatkan uang saku setara dengan Lazuardi selama empat hari lebaran. Senada dengan Lazuardi, uang itu juga akan digunakan untuk keperluan sekolah seperti membeli buku.
Di Banyuwangi, tradisi silaturahmi diajarkan semenjak anak-anak terutama di saat lebaran. Khusus untuk anak-anak, selain mengenal saudara lewat jalinan silaturahmi dari rumah ke rumah, mereka mendapatkan bonus tambahan sangu alias angpao.
Dan untuk memenuhi kebutuhan para orang tua akan uang pecahan dalam lebaran tahun 2013 ini, Bank Indonesia Cabang Jember menyediakan uang pecahan sebesar Rp 1,4 miliar mulai dari Rp 50.000, Rp 20.000, Rp 10.000, Rp 5.000, Rp 2.000 dan Rp 1.000. Uang pecahan itu disebar di empat kabupaten wilayah kerja BI Jember yakni Jember, Banyuwangi, Situbondo dan Bondowoso.