Liputan Khusus

Jarang Tampil di Layar Kaca, Popularitas Pun Tenggelam

Grup musik pemenang Indonesia Mencari Bakat (IMB) di Trans TV pada 2010 lalu ini, malah sempat vakum dan hilang dari kenangan.

Jarang Tampil di Layar Kaca, Popularitas Pun Tenggelam
surya/sugiharto
Doweh (kanan) dan Budi (dua dari kiri), dua personal Klantink bersama rekan sesama pengamen di Terminal Joyoboyo Surabaya, Sabtu (20/7/2013).

SURYA Online, SURABAYA - Selanjutnya dari panggung Indonesia Mencari Bakat (IMB) muncul nama Brandon, si bocah ajaib yang mahir breakdance. Juga grup musik pengamen terminal Joyoboyo Surabaya, Klantink.

Ada juga grup Sunni dari SMA 1 Sedayu Gresik menjadi jawara acara Boy Girl Band Indonesia yang digelar SCTV.

Berkat panggung televisi, nama mereka melesat. Terkenal dan jadi bintang.

Namun gelar bintang yang disandangnya ternyata tidak otomatis membuatnya jadi bintang di panggung hiburan yang sebenarnya.

Klantink menjadi contoh mereka yang belum mampu meraih sukses.

Alih-alih langsung jadi artis ibukota, grup musik pemenang Indonesia Mencari Bakat (IMB) di Trans TV pada 2010 lalu ini, malah sempat vakum dan hilang dari kenangan.

Popularitas tenggelam lantraran jarang tampil di layar kaca.

“Malah tidak sedikit penggemar yang menyangka kami sudah bubar,” tutur Muhammad Saifuddin, leader Grup Klantink.

Pria yang akrab dipanggil Cak Mat ini menuturkan, sebetulnya grupnya tidak vakum seratus persen. Mereka masih manggung, tapi di panggung off air.

“Tapi lama-lama kami sadar juga, tidak sering tampil di televisi nasional jelas bikin grup bakal mati dengan sendirinya,” ujar Cak Mat.

Saifudin mengatakan, setelah IMB, personel di internal Klantink sempat pecah pendapat.

Sebagian menginginkan tetap tinggal di Jakarta, untuk terus mempertahankan kepopuleran yang mereka dapatkan di IMB.

Sebagian lagi, termasuk Cak Mat, ngotot kembali ke Surabaya. Saifudin mengaku tak tega meninggalkan istrinya seorang diri membesarkan kedua anaknya.

Pada akhirnya, Klantink memutuskan kembali ke Surabaya. Keputusan inipun harus dibayar mahal. Mereka tidak tersentuh televisi.

“Stasiun televisi nasional itu kan semua ada di Jakarta. Jadi tidak hanya sulit masalah koordinasi. Tapi yang mengundang kerap tidak mau menanggung transport yang sangat besar dari Surabaya ke Jakarta,” kata Saifudin. (ab)

Editor: Titis Jati Permata
Sumber: Surya Cetak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved