Liputan Khusus

Berkutat di Kehidupan Lama Nan Sederhana

Istri dan dua anak Saifudin, masih tinggal di rumah petak sempit di pemukiman kumuh di sisi utara Terminal Joyoboyo Surabaya.

Berkutat di Kehidupan Lama Nan Sederhana
surya/sugiharto
Dua personil Klantik, Budi (kedua kiri) dan Doweh (kiri) bersama rekan sesama pengamen di Terminal Joyoboyo Surabaya, Sabtu (20/7/2013).

SURYA Online, SURABAYA - Kehidupan lama nan sederhana, memang masih terlihat pada diri masing-masing personel Klantink meski mereka telah menjadi bintang ajang pencarian bakat.

Istri dan dua anak Saifudin, masih tinggal di rumah petak sempit di kawasan DKA Tegal, pemukiman kumuh di sisi utara Terminal Joyoboyo, Surabaya.

Kemana-mana, Saifudin juga masih mengantar istri dan anak-anaknya dengan sepeda motor.

Klantink sejatinya mendapat hadiah sebuah mobil Suzuki Splash hadiah dari IMB, tapi mobil seharga Rp 140 juta itu sudah dijual dan hasilnya dibagi rata.

Personel lain, seperti Budi Klantink, mengaku malah masih sering tidur di emperan terminal.

“Kalau libur, pulang ke Surabaya, kegiatan saya ya cangkrukan disini. Kalau kemaleman males pulang ya masih tidur disini,” kata pria tambun yang punya nama asli Budiarto ini terkekeh.

Kalaupun ada perubahan yang mencolok, adalah, blackberry yang sering terlihat di mereka mainkan di tangan.

Naik pesawat kini juga bukan lagi jadi sebuah barang mewah buat mereka.

Selain itu, tak ada lagi, selain mereka kerap berbagi rokok dan makan gratis dengan sesama rekan pengamen.

“Dulu Budi itu hampir tiap pagi utang makan, kopi sama rokok disini. Sekarang enggak pernah utang, malah sering bayari teman-temannya,” kata Minah, penjaja kopi di terminal bis kota Joyoboyo. (ab)

Editor: Titis Jati Permata
Sumber: Surya Cetak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved