Tuban Tetapkan Kenaikan Tarif Angkot 20 Persen
Kami perkirakan, penurunan penumpang ini mencapai 75 persen. Penyebabnya saat ini banyak angkutan pribadi
Penulis: Adrianus Adhi | Editor: Satwika Rumeksa
Kepastian kenaikan tarif angkutan kota (angkot) ini disampaikan Kepala Dinas Perhubungan Tuban Faraid, Senin (01/07/2013) siang. "Kenaikan tarif yang ditetapkan hanya sebesar 20 persen, dan ini sudah kami sosialisasikan sejak kenaikan harga BBM kemarin," kata Faraid pada sejumlah wartawan.
Dia menjelaskan kenaikan harga ini berdasar pengkajian dan perbandingan dari kenaikan harga BBM. Jika dihitung harga tarif angkutan yang naik dari sekarang hanya naik Rp 132 per kilometernya. Sebelum ada kenaikan ini tarif angkutan perkilometer hanya Rp 110 per kilometer.
”Secara umum kenaikan itu akan disesuaikan dengan jarak tempuh kendaraan sepert Kecamatani Montong ke Tuban nanti sopir sudah bisa menyesuaikan naik berapa, karena para penumpang juga sudah sama tahu akan kenaikan ini,” kata Faraid.
Sementara itu, Ketua Organda Kabupaten Tuban, Wagimo berpendapat kenaikan tarif ketetapan pemerintah ini tak sesuai dengan harapan para sopir. "Kenaikan BBM itu mencapai 45 persen, sedangkan angkot hanya 20 persen. Artinya kami ini rugi," terang Wagimo pada SURYA.
Karena alasan inipula, para sopir angkot seperti tak mengindahkan permintaan kenaikan itu. Mereka membuat tarif angkutan kota menjadi Rp 3.000 dari tarif sebelumnya Rp 2.500. Sedangkan, tarif untuk mahasiswa sebelumnya Rp 2.000 menjadi Rp 2.500. Sementara tarif untuk pelajar yang awalnya Rp 1.000 menjadi Rp 1.500.
Artinya, kenaikan tarif ini mencapai 30 persen hingga 50 persen dari harga sebelumnya.
"Kenaikannya Angkot sekitar Rp 500. Sedang MPU mencapai Rp 1000. Dan ini sudah disepakati dan para calon penumpang karena mereka memaklumi hal ini," terang Wagimo.
Dia berpendapat, para sopir tetap terbebani walau ada kenaikan tarif. Alasannya, jumlah penumpang di Tuban saat ini turun drastis. Sehingga untuk mencari keuntungan dari para penumpang semakin sulit.
"Kami perkirakan, penurunan penumpang ini mencapai 75 persen. Penyebabnya saat ini banyak angkutan pribadi. Bahkan lin merah yang dulu pernah beroperasi kini sudah tak beroperasi lagi karena hal itu," kata Wagimo.
Karena itu ia meminta agar pemerintah mau memperhatikan kondisi ini. "Ya, paling tidak ada jalan tengah yang lain dari Perda yang akan segera diketuk ini," tutur Wagimo.