Jalan Panjang Syiir Tanpo Waton
Syiir Tanpo Waton sontak mencuat begitu Gus Dur tutup usia. Siapa sesungguhnya di balik syiir itu?
Editor:
Tri Hatma Ningsih
Oleh: Diana Manzila
Mahasiswa UIN Maliki Malang
dianamanzila@gmail.com
Sudah menjadi tradisi warga muslim ketika memasuki waktu shalat, beberapa pujian akan keagungan Tuhan dilantunkan, baik shalawat, ataupun ajakan untuk berbuat baik, mewarnai masjid hingga mushala. Salah satunya yang populer adalah syi’ir Tanpo Waton Gus Dur. Syi’ir itu bukanlah karya presiden kelima Indonesia, namun mendapat pengukuhan Gus Dur untuk dilestarikan.
Gus Nizam, sapaan KH Moh Nizam As-Shofa, adalah si pencipta syi’ir Tanpo Waton tersebut. “Syi’ir ini sudah ada sejak 1987, saya menciptakannya berdasar catatan ngaji tasuwuf yang sudah lama saya kumpulkan,” terang Gus Nizam saat dialog interaktif Mengupas Sajak Syi’ir Tanpo Waton di Masjid al-Hikmah Universitas Negeri Malang (UM), belum lama ini.
Lelaki yang juga pengasuh pondok pesantren Ahlus Shofa wal-Wafa itu menjelaskan, satu persatu makna setiap bait syi’ir. Seperti; “duh bolo konco priyo wanito, ojo mung ngaji syari’at bloko, gur pinter ndongeng nulis lan moco, tembe mburine bakal sengsoro. (wahai saudara pria dan wanita, jangan mengkaji hukum saja, yang hanya pintar bercerita, menulis, dan membaca, pada akhirnya akan sengsara).
Gus Nizam menjelaskan dalam syi’irnya tak ada kata memerintah (amr), namun lebih pada kalam pemberitahuan (khabar). Segala tata budi, amal-amal baik dilakukan manusia diberitahukan dalam bentuk sastra Jawa, terkait hendak dilakukan atau tidak itu tergantung pada pelantun dan pendengar. Setiap bait syi’ir terdapat banyak wejangan terkait lelakon (perilaku) manusia terhadap dirinya, sesama dan Tuhannya.
Ketika ditanya kenapa syi’ir ini populer sebagai karya Gus Dur, Gus Nizam memaparkan jika syi’ir ini sempat dilantunkan di depan Gus Dur yang langsung menyukainya dan berharap syi’ir dilestarikan. “Hanya saja setelah itu muncul kaset syi’ir Tanpo Waton dengan gambar Gus Dur dan langsung melejit terlebih setelah Gus Dur wafat,” ungkapnya. Sebagai pencipta, Gus Nizam bersyukur jika syi’iran yang melalui perenungan, penyusunan panjang ini diterima dan diamalkan isinya, ujar Gus Nizam di depan peserta dialog.
KOMENTAR