Jatim Alami Deflasi Ketiga Sepanjang 11 Tahun
Kecenderungan penurunan harga secara umum ini, adalah yang ketiga kalinya terjadi dalam kurun waktu sebelas tahun terakhir.
Penulis: Eben Haezer Panca | Editor: Titis Jati Permata
Kecenderungan penurunan harga secara umum ini, adalah yang ketiga kalinya terjadi dalam kurun waktu sebelas tahun terakhir.
Kepala Bidang Distribusi Provinsi Jatim, Sapuan, dalam pemaparan yang berlangsung Senin (3/6/2013) menyebutkan bahwa pada Mei 2013 Jatim mengalami deflasi 0,20 persen.
Deflasi tertinggi terjadi di Madiun sebesar 0,71 persen, diikuti Jember sebesar 0,86 persen, Sumenep 0,46 persen, Malang 0,35 persen, Kediri 0,20 persen.
"Deflasi terendah terjadi di Surabaya dan Probolinggo masing-masing sebesar 0,07 persen," ujar Sapuan.
Sapuan menambahkan, terdapat beberapa kemungkinan yang berdampak pada terjadinya deflasi ini.
Di antaranya adalah persediaan yang melimpah dan psikologis konsumen yang jenuh terhadap harga tinggi sehingga penjual mau tak mau harus menurunkan harga.
"Sepertinya kalau deflasi kali ini lebih disebabkan karena konsumen yang jenuh terhadap kenaikan harga," imbuhnya.
Sementara itu untuk komoditas-komoditas yang memberikan sumbangan terbesar terhadap deflasi, di antaranya adalah bawang merah, bawang putih, emas perhiasan, cabe rawit, tomat sayur, minyak goreng, ikan mujair, bensin, ikan gurame, dan ikan tongkol.