Usia Tiga Bulan Sapi Madrasin Rp 7,5 Juta
Drh Dhitus Novianto mengemukakan, pertumbuhan daging sapi Madrasin lebih cepat dari sapi Madura.
Penulis: Ahmad Faisol | Editor: Satwika Rumeksa

Peternak sapi Madrasin Omri (50), warga Desa Tunjung Kecamatan Burneh mengungkapkan, beternak sapi Madrasin lebih menguntungkan dari pada beternak sapi Madura.
"Usia kehamilan sapi Madura dan Madrasin sama, sembilan bulan. Saat usia tiga bulan harganya sudah menembus Rp 7,5 juta per ekor," ungkap Omri, Rabu (29/5/2013) di Pusat Kesehatan Hewan (puskeswan), Desa Langkap Kecamatan Burneh saat menghadiri kunjungan Bupati Bangkalan RK Moh Makmun Ibnu Fuad ke Puskeswan dan Kebun Holtikultura.
Pria sudah berternak sapi Madrasin sejak tahun 1997 itu menyatakan, harga jual sapi Madura di usia tiga bulan hanya berkisar Rp 4 juta per ekor.
"Di usia dua tahun sudah seharga Rp 20 juta. Sementara sapi Madura mentok di harga Rp 12 juta. Ekonomisnya di situ dan dagingnya lebih empuk," kata Omri yang tergabung dalam Kelompok Tani Roksi.
Melihat nilai ekonomis sapi Madrasin, populasi sapi dengan ciri khas warna hitam di perut, kepala, dan tumbuh rambut di kepala itu memang sedikit menjadi sorotan.
Pasalnya, jumlah populasi sapi Madrasin terbilang pesat di Kabupaten Bangkalan. Data di Dinas Pertanian dan Perternakan (dispertanak) Bangkalan, jumlah polpulasinya hingga saat ini sudah mencapai angka 7.000 ekor. Sementara sapi asli Madura berjumlah 200.000 ekor.
"Apa tidak mengganggu populasi dan pertumbuhan ras sapi Madura. Itu berlawanan dengan upaya leluhur melestarikan ras sapi Madura," ungkap tokoh Bangkalan, Fathurrahman Said kepada Surya Online.
Apa yang menjadi kekhawatiran Fathurrahman nampaknya tidak akan terjadi. Mengingat dispertanak setempat telah mengantisipasi kepunahan sapi ras Madura dengan melakukan kawin silang kembali pada keturunan kedua (F2).
"Kita silangkan kembali dengan induk sapi Madura menginjak F2. Di mana komposisi darah sapi Madrasin sudah mencapai 70-80persen didominasi jenis Limusin masih bisa mengembalikan sapi ras Madura," papar Kepala Dispertanak Puguh Santoso.
Ia menambahkan, upaya kawin silang guna mengembalikan keaslian sapi Madura akan gagal jika dilakukan pada sapi Madrasin keturunan ke-3 atau di sebut F4. "Pada F4 ini komposisi darah Limusin sudah mendominasi 90 persen dan sudah tidak bisa lagi. Jadi tidak mengganggu populasi sapi Madura," tandasnya.
Sementara itu, Kepala Puskeswan drh Dhitus Novianto mengemukakan, pertumbuhan daging sapi Madrasin lebih cepat dari sapi Madura. Pada usia satu tahun, bobot sapi Madrasin sudah mencapai 300 Kg. "Di usia dua tahun mencapai bobot 600 Kg. Kalau sapi Madura di usia dua tahun mentok 400 Kg," ungkapnya.
Ia mengatakan, teknis kawin silang sapi Madura dan Limusin dengan cara menyuntikkan sperma pejantan Limusin ke induk sapi Madura. "Pada saat masa biraha. Di mana kemaluan sapi betina memerah dan mengeluarkan lendir," pungkasnya.