Liga Champions
Kekuatan Asia Dobrak Eropa
Penantian panjang Kairat Almaty untuk menjuarai kompetisi futsal antarklu
Penulis: Deddy Sukma | Editor: Eko Supriyanto
Kemenangan Kairat – yang hanya tiga bulan mengalami transisi pelatih dari Carlos Barbosa ke tangan Cacau medio Februari lalu – memang spektakuler. Sejarah sebagai juara di UEFA Futsal Cup tersebut diukir secara meyakinkan. Tidak hanya dari hasil, tetapi juga performa Fumasa dkk di lapangan.
Di luar dugaan, Kairat malah tampil lebih dominan menghadapi Dinamo yang terhitung salah satu kekuatan penting di jagad futsal Eropa. Permainan cepat Kairat bahkan sudah membuka kekagetan Dinamo melalui gol bunuh diri kiper mereka sendiri, Aleksei Popov di menit ke-10. Distribusi serangan dari kaki Euler kepada Alexandre Moraes di depan gawang Dinamo membuat Popov salah langkah dan memantulkan bola ke dalam gawang sendiri.
Sebagai tim berpengalaman, Dinamo cepat bangkit. Pasukan Faustino Perez ini membalas dari kaki Sergei Sergeev di menit ke-18. Skor 1-1 di babak pertama, Kairat memperlihatkan kekuatan spirit juaranya dengan memberondong jala Dinamo tiga gol sekaligus. Leo Santana membawa Kairat unggul di menit ke-22, diikuti Fumasa (28) dan senjata rahasia mereka, kiper Higuita di menit ke-32.
Dan saat Cirilo dan Tatu mengejar masing-masing di menit ke-35 dan 36, semuanya sudah terlambat bagi Dinamo. Ternyata memang kontribusi Higuita menjadi penentu bagi Kairat untuk menjadi tim asal Asia Tengah pertama yang merajai kejuaraan futsal Benua Biru itu sejak 2001.
Begitu peluit pertandingan berbunyi, Cacau dan para pemainnya bersorak. Seantero stadion Sports Palace seakan menjadi milik Kairat – juara Liga Futsal Kazakhstan selama 10 tahun terakhir – yang membuat sejarah dengan menaklukkan tim-tim juara.
Sebelumnya, Kairat membungkam juara UEFA Futsal 2012 Barcelona 5-4 di semifinal, sedangkan Dinamo merupakan juara edisi 2007.
Secara kualitas, Kairat memang layak juara. Siklus menuju prestasi sudah dilalui karena Kairat pernah menjadi peringkat keempat tahun 2007, masuk semifinal tahun 2005, menjadi juara ketiga tahun 2008 dan 2010. Dan proses itu kian mematangkan mereka untuk menjadi juara tahun ini.
Para pemain pun spontan membopong Cacau usai penyematan kalung juara dan penyerahan trofi. Mantan pemain Kairat dan Dinamo ini menyebut pasukannya masih dalam kondisi moral yang jatuh saat ia datang tiga bulan lalu.
“Tetapi sekarang impian Kairat terwujud,” kata kapten Dinamo, Dinmukhambet Suleimenov.
Cacau menyebut kunci sukses Kairat adalah kegembiraan, ambisi dan kekompakan dalam bermain. Ia memuji peran Higuita yang merupakan kiper istimewa dengan kemampuan menyerangnya.
“Mengalahkan dua tim terbaik dunia secara beruntun (Barcelona dan Dinamo) sangat membanggakan. Kunci kemenangan adalah merebut ritme pertandingan di 10 menit terakhir, dan saya pelajari cara itu saat mengamati cara Barcelona bermain selama sebulan,” ungkap Cacau.