Rabu, 10 Juni 2026

Feature Komunitas Backpacker

Kunjungi Wisata Budaya dan Alam

Kami juga sedang sharing acara camping ceria yang baru kami gelar awal April ini di Pacet

Tayang:
Penulis: Sri Handi Lestari | Editor: Wahjoe Harjanto
SURYA Online, SURABAYA - Kata Backpacker adalah perjalanan ke suatu tempat tanpa membawa barang-barang yang memberatkan atau hanya cukup membawa tas ransel.

Bepergian ala backpacker adalah bepergian dengan biaya minim, fasilitas minim, ke daerah wisata, baik ke luar maupun dalam negeri. Tapi bagi komunitas Backpactor, mereka menambah sepeda motor sebagai alat transportasi tentunya.

Prawita (23), bersama dua temannya, Jumat (19/4/2013) malam, dengan mengendarai dua motor, tiba dari kota Malang dan langsung duduk lesehan di trotoar depan Kebun Binatang Surabaya (KBS).

Di tempat itu, secara bergantian, datang juga anak-anak muda seusia Tata, begitu Prawita biasa disapa. Mereka kemudian duduk melingkar dan mengeluarkan kertas, laptop dan kamera. Membahas logo komunitas bernama Backpacktor. Yaitu komunitas backpacker yang membawa motor.

“Kami juga sedang sharing acara camping ceria yang baru kami gelar awal April ini di Pacet,” kata Agus Setiawan, Koordinator Komunitas.

Camping ceria merupakan salah satu kegiatan yang mereka lakukan. Sebelumnya, mereka sudah melakukan berbagai kegiatan bepergian dengan motor, ke berbagai tempat wisata di Jatim. Mulai dari kawah Ijen di perbatasan Banyuwangi-Bondowoso, Pantai Teluk Ijo, Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru (TNBTS), Musium Mojokerto, Pantai Damai Banyuwangi, Pantai Bajul Mati Kabupaten Malang, dan sekitarnya.

Komunitas ini baru terbentuk awal Januari 2013. Sebenarnya, jelas Agus,  mereka hanyalah sebuah group dalam jejaring sosial yang hobi share pengalaman jalan-jalan ke tempat wisata yang menarik.

Dari share foto dan pengalaman itu, semua saling tertarik untuk mendatanginya. Kemudian ada kesepakatan untuk sama-sama mendatanginya. Tapi naik motor tentunya.

“Naik motor, karena hampir semuanya punya. Juga dianggap lebih murah dan meriah karena bisa menembus medan lalu lintas dalam kondisi apapun,” jelas Agus.

Setelah pertemuan dalam perjalanan pertama yang sukses dan berkesan, mereka sepakat membentuk komunitas dan mengagendakan kopi darat atau bertemu. Karena anggotanya tersebar, ada yang dari Malang, Sidoarjo, Mojokerto, dan Gresik, mereka sepakat memilih tempat pertemuan di depan KBS.

Waktu pertemuan adalah satu bulan sekali, di Jumat malam tergantung kesepakan minggu keberapa.

Tata mengaku, sangat antusias dan menikmati bergabung dalam komunitas ini. “Bisa menyalurkan hobi keluyuran saya ke yang lebih bermanfaat. Jalan-jalan ke tempat wisata dengan motor, selain murah meriah, juga membuat tujuan saya lebih bermanfaat,” jelas Tata.

Sehingga begitu ada kabar waktu pertemuan, Tata dan dua rekannya nekat mengendarai motor dari Malang ke Surabaya. Pertemuan itu bisa berlangsung semalaman dan begitu selesai bertemu, Tata akan kembali ke Malang.

“Tapi teman-teman di sini baik. Mereka memberi tempat kalau ada yang ingin istirahat dan menginap dulu,” lanjut Tata.

Anggota komunitas ini tidak terbatas. Mulai dari kalangan mahasiswa hingga pekerja. Tapi diakui Agus, mayoritas masih lajang. Kendaraan motor yang mereka kendarai juga tidak terbatas jenis dan mereknya.

Dalam kegiatan touring, komunitas ini selain berkunjung ke tempat wisata, mereka tidak hanya sekedar melihat maupun memotret. Tapi juga mempelajari sejarah, lingkungan, dan kadang juga menggelar kegiatan sosial bagi warga sekitar.

Tak hanya itu, mereka juga punya komitmen, bila mereka adalah satu. Sehingga ketika memutuskan untuk berangkat bersama-sama, harus hilangkan ego untuk tampil individu. Harus saling menjaga. Misalnya, ada masalah pada kendaraan, harus bersedia berhenti semua untuk membantu memperbaiki dan menunggu.

“Kami juga komitmen, dalam perjalanan untuk tidak ugal-ugalan. Menjaga tetap tertib lalu lintas. Tidak anarkis dengan pengendara lain, dan tidak membuang sampah atau mengotori selama di tempat wisata maupun di perjalanan,”  ungkap Agus, yang tercatat sebagai karyawan swasta di sebuah pabrik di Gresik itu.

Selanjutnya, hasil kunjungan di share ke blog atau jaring sosial untuk dibagikan ke masyarakat umum. Salah satu anggota, Kusbi, asal Sidoarjo, yang berprofesi sebagai guru, bahkan mendapat manfaat lain dari kegiatan di komunitas ini.

“Saya punya bahan lain untuk mengajar ke murid-murid, selain materi yang sudah ada di kurikulum sekolah. Ini juga bisa menjadi pancingan bagi mereka untuk tertarik dalam belajar,” komentar Kusbi.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved