Minggu, 24 Mei 2026

Pembangunan Jembatan Darurat Plapar Molor

Padahal pekerjaan itu hanya untuk memasang kontruksi jembatan darurat bagi pejalan kaki dan kendaraan roda du

Tayang:
Penulis: Sudarmawan | Editor: Satwika Rumeksa
SURYA Online, PONOROGO-Janji Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) dan Bina Marga Propinsi Jawa Timur, yang menyatakan pembuatan jembatan darurat Bailey di Dusun Plapar, Desa Caluk, Kecamatan Slahung, Kabupaten Ponorogo selesai 10 hari, hanya isapan jempol belaka.

Ini menyusul, pembangunan jembatan darurat untuk pejalan kaki dan kendaraan roda 2 hingga kini masih molor karena belum bisa dikerjakan sama sekali. Padahal, bahan baku untuk pembuatan jembatan darurat, yakni sesek (anyaman bambu), bronjong besi, dan pipa penyangga dasar jembatan darurat sudah didatangkan bertahap sejak Senin (8/4/2013) kemarin.

Selain disebabkan labilnya tanah dibibir sungai yang sering dan mudah ambrol, juga disebabkan masih adanya masalah pembebasan lahan untuk pembangunan jembatan darurat itu.

Pasalnya, pemilik lahan untuk pembangunan jembatan darurat itu, sebagian masih belum menyetujui nilai harga ganti rugi yang diberikan.

Sedangkan jembatan darurat itu, untuk pejalan kaki dan kendaraan roda 2 itu sangat dibutuhkan warga Kabupaten Ponorogo maupun Kabupaten Pacitan yang setiap hari lalu lalang melintasi jembatan Plapar, di Desa Caluk, Kecamatan Slahung yang ambruk, Sabtu (6/4) malam itu.

Jembatan yang ambruk adalah akses utama jalur Ponorogo menuju Pacitan dan sebaliknya. Salah seorang pelaksa pembuatan jembatan darurat, Hartono dari PT Dwi Ponggo Seto yang berkantor di Ponorogo mengatakan untuk membuat pondasi jembatan darurat, pihaknya harus berpindah tempat sampai tiga kali.

Padahal pekerjaan itu hanya untuk memasang kontruksi jembatan darurat bagi pejalan kaki dan kendaraan roda dua. Menurutnya pindahnya tempat pemancanangan tiang untuk jembatan darurat tersebut dikarenakan tempat yang akan dijadikan menanam tiang tersebut, setiap hari ambrol.

Oleh karenanya, setiap hari pihaknya selalu menggeser posisi lokasi pemancangan dasar penguat jembatan itu. Namun, keesokan harinya tanah cadas di bibir dan dasar sungai itu ambrol lagi. Kondisi itu berlangsung terus menerus hingga 3 kali.

Bahkan hendak keempat kalinya yakni yang terakhir hari ini dimulai lagi merintis jalan untuk menuju jembatan yang akan dipasang pondasi pemancang jembatan darurat itu.

Selain itu, Hartono mengungkapkan selain masalah tanah.
"Ada masalah pembebesan lahan warga yang hendak dijadikan jalan darurat pejalan kaki dan roda dua. Kalau di seberang timur sungai sudah dibeli seharga Rp 51 juta dan sudah klir. Namun untuk seberang barat sungai ini yang masih ada masalah. Untuk yang satu lokasi sudah kami beli Rp 3 juta, tetapi yang satunya belum terbebaskan," imbuhnya.

Sementara itu, molor pembangunan jembatan darurat yang paling vital disebabkan pelaksana masih menunggu kontruksi bangunan jembatan darurat dari Dinas Pekerjaan Umum Propinsi Jawa Timur yang selalu berubah-ubah gambarnya. Hal ini karena  menyesuaikan lokasi. Oleh karenanya, pihak pelaksana belum bisa membuat kerangka jembatan darurat karena menunggu gambar itu.

"Sambil menunggu gambar, kami membikin jalannya untuk menuju jembatan darurat. Sehingga kami menyisir jalan untuk kontruksi dan rancangan jembatan darurat yang akan kami kerjakan kalau sudah ada gambar pasti dari Dinas PU Propinsi Jatim," pungkasnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved