Perajin Kulit Magetan Kesulitan Bahan Baku
Perajin Kulit Magetan Kesulitan Bahan Baku
Penulis: Doni Prasetyo | Editor: Parmin
Akibatnya, banyak perajin kulit saat terpaksa menghentikan produksi karena tidak ada pasokan bahan baku. "Sekarang ini kalaupun ada aktivitas, paling kita masak kulit stok lama dan percahan-percahan kulit untuk bahan krupuk rambak dan kikil,"kata Sarmin, seorang pengusaha besar penyamak kulit Magetan, Rabu (3/4/2013).
Menurut Sarmin, sebelum pemerintah melarang impor daging, perusahaan sehari bisa menyamak kulit minimal 9 kuintalatau 1,8 ton per dua hari. Namun, dengan kelakaan kulit, perusahaannya sering tidak memperkerjakan karyawannya.
"Perusahaan saya barusan libur 10 hari, karena tidak ada kulit yang diproses. Tapi ini kebetulan ada kulit stok lama, mereka saya minta masuk untuk menyamak kulit ini dan memproses bahan kerupuk kulit," katanya.
Sarmin, memprediksi penyamaan kulit di tempatnya hanya sampai tiga hari, dan paling lama empat hari. Setelah penyamakan kulit stok lama habis, puluhan karyawan itu terpaksa dirumahkan kembali.
"Ya kalau memang tidak ada kulit yang disamak lagi, tentunya karyawan terpaksa diliburkan, menunggu sampai kita punya kulit lagi untuk disamak,"tutur Sarmin yang mengaku hasil produksinya dipasarkan ke Surabaya, Bandung, dan luar pulau. Bahkan hingga ke luar negeri untuk memenuhi perusahaan pembuat jok mobil.
Sarmin menambahkan, saat ini pesanan kulit dari luar negeri seperti, Amerika dan Jepang, dihentikan karena kulit sebagai bahan jok mobil sudah lama tidak ada di pasaran.
"Begitu kasus itu ramai, kulit bahan jok mobil itu langsung sulit ditemukan di pasaran. Otomatis, pengusaha di sini juga tidak bisa lagi memenuhi permintaan perusahaan luar negeri itu. Sekarang ini menyamak kulit hanya untuk memenuhi perusahaan sepatu lokal Magetan saja, kalau sisa baru kita kirim ke Surabaya," ujarnya.