Sentra Kerajinan Caping Ponorogo Terancam Gulung Tikar
Sentra kerajinan anyaman caping yang sudah menjadi usaha rumahan secara turun temurun sejak jaman nenek moyang
Penulis: Sudarmawan | Editor: Heru Pramono
Selain produk caping kurang dimininati karena para konsumen lebih banyak memilih menggunakan topi hasil produksi pabrikan, juga disebabkan hasil kerajinan caping warga Karanggebang, kalah bersaing dengan kerajinan anyaman caping milik warga Sumberagung, Kecamatan/Kabupaten Magetan.
Apalagi, para perajin selama ini tidak pernah mendapatkan perhatian dari Pemkab Ponorogo. Dampaknya, usaha mereka yang sudah hampir kembang kempis itu, tidak pernah mendapatkan suntikan dana bantuan sama sekali. Padahal, sejak bertahun-tahun usaha kerajinan topi caping itu, sudah menjadi andalan hampir seluruh warga yang ada di kampung Karanggebang itu.
Disamping itu, hasil penjualan produksinya tidak mampu mencukupi kebutuhan hidup para perajin. Topi caping harganya tidak pernah dinaikkan sedangkan harga kebutuhan hidup hampir terus mengalami kenaikan. Apalagi, pangsa pasarnya produksi caping tidak bisa didongkrak alias terus mengalami penurunan.
Meski saat ini masih ada sekitar 100 perajin caping, tetapi mereka hanya meneruskan usaha itu demi memenuhi permintaan konsumen yang masih setia menggunakan caping.
Salah seorang perajin caping, Sutarmi (80) warga Dusun Purwoasri, Desa Karanggebang mengtatakan pekerjaan yang digelutinya sejak berusia 10 tahun tersebut semakin hari semakin tidak mensejahterakan. Hal ini seiring naiknya harga kebutuhan rumah tangga.
Sedangkan penghasilannya tidak pernah mengalami kenaikan. Sutarmi merasa pekerjaannya itu, tidak lagi bernilai ekonomi. Pasalnya di usia senja itu, dirinya dalam sehari hanya mampu menganyam caping sebanyak 5 lembar. Padahal upah per lembarnya hanya dihargai Rp 250.000.
"Saya bisa menganyam caping sejak usia 10 tahun. Sampai saya setua ini harga atau upah menganyam lembaran bahan caping itu tidak pernah naik. Padahal, kebutuhan dapur terus naik dan melejit," terangnya kepada Surya Online, Sabtu (30/3/2013).
Hal yang sama disampaikan perajin lainnya, Kadiran (65) warga RT 01, RW 01, Dusun Karangasri, Desa karanggebang yang masih eksis menganyam caping meski harganya lesu. Alasannya, kerajinan caping sudah menjadi penopang ekonomi keluarganya.
"Saya bersama ibu masih tetap menganyam walau harganya sekarang ini jauh lebih murah. Satu lembar anyaman caping hanya dihargai Rp 1.000. Namun hanya ini usaha tahunan kami secara turun temurun. Jika dulu bisa buat menyekolahkan anak sekarang cukup buat memenuhgi kebutuhan dapur," imbuhnya.
Hal senada disampaikan Kasih (50) warga RT 02, RW 01. Dia sangat menyayangkan dengan kondisi hasil kerajinannya. Karena selama ini dirinya mengaku belum pernah mendapat bantuan sama sekali dari Pemkab Ponorogo. Bahkan, jika ada bantuan selama ini hanya diberikan ke pengepul.
"Padahal bahan baku bambu kami hasil membeli. Seharusnya para perajin ini yang diperhatikan Pemkab Ponorogo bukan pengepulnya," protesnya.
Ironisnya, kata perajin caping lainnya Tumirah, hasil kerajinan warga Karanggebang itu sering kali setiap ada pameran di alun-alun Ponorogo atau kota lainnya seperti di Surabaya, Pemkab Ponorogo meminjam hasil karya warga itu. Namun sehabis itu tidak ada tindak lanjut dan barang usai dipinjam untuk pameran dikembalikan.
"Pemkab Ponorogo hanya butuh kami kalau ada pameran. Tetapi program pengembangan usaha nenek moyang ini tidak pernah dipikirkan dan diprogramkan pemerintah," katanya.
Sedangkan mantan perajin caping, Soirin (50) mengaku sudah lama berhenti dari menjadi perajin anyaman caping bambu. Alasannya, usaha itu hasilnya sudah tidak bisa lagi diandalkan. Harga bambu per batang di pasar sudah mencapai Rp 8.000.
Sedangkan per batang bisa dibuat caping sebanyak 20 buah. Sementara harga caping untuk jenis buyuk dan caping plenthon hanya Rp 2.500 per buah dan untuk harga Caping lancip hanya Rp 4.500 per buah.
"Kalau kami meneruskan usaha kerajinnan ini keluarga tidak bisa makan, anak tidak bisa sekolah serta kami tak bisa memenuhi kebutuhan hidup bermasyarakat lainnya," ungkapnya.
Sementara Kepala Desa Karanggebang, Abdul Basith (38) mengaku sangat menyayangkan hasil kerajinan tangan warganya yang sudah bisa mengagkat desa serta menjadi ikon desa termasuk ikon Kabupaten Ponorogo itu. Akan tetapi, kini kondisinya malah semakin terpuruk. Basith berharap agar kerajinan anyaman di desanya ini tidak punah tergerus jaman.
Apalagi, kini warganya yang masih berusia produktif, tidak meninggalkan kampung halamannya agar pemerintah segera menata dan memberikan pembinaan untuk mempertahankan hasil karya yang sudah menjadi Sentra Anyaman Desa Karanggebang ini.
"Kami sangat berharap pemerintah peduli dan membina para penganyam untuk lebih produktif tidak monoton di caping biar mereka bisa bertahan. Saya bingung mencarikan solusi tanpa ada perhatian dari Dinas Industri, Perdagangan dan Koperasi (Indakop).
Kami sudah lama punya wacana tapi kalau pemerinta sendiri seakan diam kami kebingungan. Makanya kami membiarkan warga beralih ke anyaman tas plastik," tandasnya.