Napi yang Nyaman dalam Penjara

Kasur empuk, lantai bersih, meja kursi, komputer, alat fitnes, hingga minimarket dalam penjara? Tak heran napi kabur pun balik sendiri! Di mana?

Napi yang Nyaman dalam Penjara
Winda Hardiyanti

Oleh : Winda Hardiyanti  
Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang 
winda86@gmail.com 


September 2012 lalu, saya mendapat kesempatan untuk short course tentang HAM di Universitetet I Oslo, Norwegia. Salah satu tujuan trip dalam short course adalah mengunjungi Ila Prison, tempat Breivik teroris Oslo dipenjara. Saya membayangkan Ila Prison ini lazimnya penjara lain. Kelam, kumuh, dan padat penghuni. Namanya saja penjara, pasti tempat untuk menghukum orang-orang jahat agar tak melakukan kejahatan lagi. Istilah tersebut mungkin terlalu kejam, sehingga kini kita menyebutnya sebagai lembaga permasyarakatan (lapas). 

Di Ila Prison, bayangan kejam itu awalnya hanya terlihat dari pos penjagaan. Untuk masuk ke dalam penjara, para pengunjung tak bisa begitu saja melenggang masuk tanpa syarat. Segala hal yang mengandung logam, termasuk jam tangan dan anting harus dilepas. Kami diijinkan masuk setelah melewati dua kali sensor pengawasan superketat. Ternyata tak ada jeruji besi yang menyeramkan di Ila Prison. Staf lapas mengantar kami hingga ke bilik tahanan. Wow! 

Ruangan seluas 2x3 meter tersebut tak pantas disebut penjara. Kasur tipis namun empuk, ruangan berlantai keramik cukup bersih, meja kursi, dan satu PC layar flat tanpa akses internet, cukup untuk menggambarkan kemewahan kamar penjara. Tak hanya itu, di sekitar bilik penjara juga tersedia alat fitness, ruang makan, dan mini coffee shop. Belum lagi beberapa hektar perkebunan, minimarket dan klinik gigi dengan seperangkat kursi dental. Fantastis! 

Hal ganjil untuk sebuah konsep lapas itu tentu menarik rasa penasaran saya untuk bertanya pada sipir Ila Prison yang mengantar kami. Mengapa Ila Prison menerapkan konsep seperti ini? Jawaban sipir adalah Ila Prison menerapkan konsep rehabilitasi. Itu sebabnya napi di Ila Prison benar-benar dimanusiakan hingga masa hukuman berakhir. 

Mereka tetap berhak mendapat pendidikan, ada kelas-kelas khusus untuk para napi dan mereka tak boleh menerima uang dari luar. Uang mereka dapatkan hanya dari upah bertanam di perkebunan dan bisa dibelanjakan di minimarket di kawasan lapas. Jumlahnya dibatasi, sekitar 30 krone per hari, setara dengan 60 ribu rupiah. 

Dengan sistem tersebut, tak ada satu pun napi yang berani kabur dari tahanan. Pernah ada seorang napi kabur, namun esok harinya napi tersebut kembali lagi. Sebab kehidupan di luar penjara jauh lebih sulit untuk mereka yang jobless. Biaya hidup di Norwegia terkenal cukup tinggi dibandingkan negara Eropa lainnya. 

Saya teringat kalimat Dr Sahardjo SH, mantan Menteri Hukum dan HAM, mengenai asal-usul kata pemasyarakatan. Dr Sahardjo mengatakan pidana penjara bertujuan untuk mendidik terpidana agar menjadi seorang anggota masyarakat Indonesia yang berguna.

Tujuan pidana penjara adalah pemasyarakatan, atau treatment philosophy atau dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai resosialisasi atau rehabilitasi. Mungkin terlalu mahal jika kita melihat fasilitas di Ila Prison, namun konsep rehabilitasi yang arif tentu layak menjadi contoh bagi lembaga permasyarakatan di Indonesia.


Editor: Tri Hatma Ningsih
Sumber: Surya Cetak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved