Breaking News:

Bila Ramayana Berbahasa Jawa

Rama dan Sinta berkebaya dan fasih berbicara dalama bahasa Jawa? Inilah Ramayana masa kini.

Bila Ramayana Berbahasa Jawa
Agista Rully Saraswati
Oleh : Agista Rully Saraswati  
Mahasiswi Akuntansi Universitas Negeri Malang
agistarully@ymail.com 



Kamis (20/12) lalu aula Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang (UM) terlihat berbeda saat mahasiswa jurusan sastra Indonesia tampil di pentas dengan bertutur dalam bahasa Jawa. Maklum, saat itu mereka tak sekadar berpentas namun tengah ujian akhir semester dalam pergelaran drama berbahasa Jawa!

Ujian yang dimulai pukul 09.00 WIB itu diikuti lima grup, masing-masing tampil dengan kisah dan tema berbeda. Grup pertama tampil lewat lelakon Ramayana namun dalam kemasan kisah modern. Para pelakon yang mengenakan busana Jawa dalam suasana rumahan yang terasa ramah, kendati penonton masih belum meraba bila mereka tengah memainkan lakon Ramayana. Justru lewat penampilan grup ketiga yang mengusung kisah yang sama, Ramayana, penonton baru paham bila grup pertama mementaskan drama Ramayana!

Grup lain memilih kisah yang menyindir kehidupan sosial masyarakat Indonesia yang sayangnya dikemas secara dangkal sehingga penonton kurang menangkap pesan yang mereka sampaikan. Tentu selain kekurangan yang mereka pentaskan, setiap grup memiliki keunggulan. Seperti penataan suara dan kekuatan akting beberapa pemain. Toh drama berbahasa Jawa mahasiswa Fakultas Sastra jurusan sastra Indonesia UM patut itu diapresiasi positif. 

Setidaknya kehadiran mahasiswa sebagai pelestari budaya, termasuk bahasa daerah bisa diimplementasikan dalam situasi dan kondisi yang cerdas. Seperti tugas akhir mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia ini. Melestarikan budaya Jawa bisa dimulai dari hal yang paling kecil dan dimulai dari lingkungan paling kecil. Melihat fasihnya para mahasiswa bertutur dalam bahasa Jawa sepertinya kemauan pemuda masa kini terhadap budayanya sendiri tidak melulu luntur oleh terjangan arus budaya Barat. 

Masih ada pemuda yang peduli terhadap budaya mereka sendiri, masih terdapat kesadaran dalam diri pemuda kita untuk melestarikan warisan nenek moyang. Oleh karena itu, sebagai pemuda bangsa Indonesia baik Jawa, Batak, Sunda, Bugis, Minang, Papua alangkah baiknya kita tetap menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa sehari-hari.


Editor: Tri Hatma Ningsih
Sumber: Surya Cetak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved