Buceng Robyong Kirab Hasil Bumi Warga Penampihan
Warga Penampihan yang mayoritas sebagai petani mengumpulkan aneka tumpeng yang terbuat dari aneka sayur mayur
Penulis: David Yohanes | Editor: Rudy Hartono

Warga Penampihan yang mayoritas sebagai petani mengumpulkan aneka tumpeng yang terbuat dari aneka sayur mayur di lapangan desa setempat, Jumat (16/11/2012), sekitar pukul 10.30 WIB. Mereka juga membawa tumpeng berupa nasi dan ayam ingkung. Sementara peserta acara ini mengenakan pakaian prajurit dan abdi dalem pada masa dulu.
"Ini bentuk syukur dan kebersamaan kami sebagai masyarakat Penampihan," ujar Robin, Kepala Dusun setempat dan juga pemandu upacara ini.
Iring-iringan tumpeng berjalan pelan menyusuri jalan setapak menuju puncak. Mereka mengarah ke candi Penampihan di mana situs tertua dari jaman Mataram Hindu berada. Sesampai di candi, para peserta arak-arakan melakukan ritual. "Di sinilah nampak harmoni hidup di Penampihan. Sebab semua kepercayaan bersatu di sini," tambah Robin.
Seperti yang dikatakan Robin, di puncak candi digelar ritual doa menurut keyakinan Hindu. Sementara di bagian bawah prasasti umat Islam dan Katolik yang menjadi bagian masyarakat penampihan mengikuti upacara adat.
Robin menerangkan, arak-arakan sayur mayur ditujukan untuk memamerkan hasil pertanian. Di mana masyarakat penampihan secara turun temurun hidup dari menanam sayur mayur.
"Kami biasa adakan tradisi ini tepat pada hari pertama bulan Suro. Maka ada juga yang menyebut tradisi ini Grebek Suro," terangnya.
Menempuh jarak sekitar 3 km, acara di akhiri dengan makan bersama tumpeng dan ayam ingkung yang sudah dibawa. Masyarakat meyakini, candi penampihan adalah lokasi persemadian para raja Jawa. Di sinilah awal kebijaksanaan dan kepemimpinan, awal mula dari kesejahteraan warga di pegunungan.