Persiapan Grebeg Suro Masih Minim
Kondisi ini memalukan karena pengunjungnya dari berbagai wilayah pelosok Indonesia yang mengirim peserta (FRN)
Penulis: Sudarmawan | Editor: Satwika Rumeksa
Pasalnya, hingga menjelang pelaksanaan acara mulai beberapa pekan ke depan, 2 lokasi yang dijadikan lokasi pelaksanaan acara rangkaian budaya tahunan ini, yakni panggung utama alun-alun dan padepokan reyog kondisinya masih semrawut. Padahal, anggaran acara Grebeg Suro mencapai lebih dari Rp 1 miliar.
Padahal, panggung utama akan dijadikan lokasi pelaksanaan acara inti baik untuk pembukaan dan penutupan acara Festival Reyog Nasioal (FRN) dan padepokan Reyog digunakan untuk festival karawitan anak-anak.
Kondisi gedung padepokan reyog yang ada di samping gedung Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pemkab Ponorogo, masih semrawut dan belum diperbaiki. Gedung ini atapnya yang terbuat dari asbes transparan kondisinya jebol semuanya dan bahkan nyaris habis. Sebagian lagi masih banyak asbes yang bergelantungan dan membahayakan pengunjung jika asbes jatuh menimpa pengunjung.
Sedangkan panggung utama alun-alun Ponorogo, meski sudah direhab dengan anggaran Rp 1,9 miliar dan dilengkapi dengan 2 gazebo di kanan kiri panggung serta ditambah panjangnya untuk halaman panggung, masih tampak kumuh dan awut-awutan. Diantaranya, belakang gapuro relief yang ada di belakang panggung sampai saat ini belum dibenahi atau dicat. Sehingga panggung masih terkesan acak-acakan dan terkesan kumuh.
Suhadi (30) warga Pulung, yang berkunjung ke Kota Ponorogo dan bersantai bersama keluarga di panggung Utama alun-alun menyayangkan panggung utama yang dilengkapi gazebo tersebut, relief dan gapuro belakang yang menjulang tinggi luput dari sentuhan perawatan.
"Harusnya relief dan gapuronya dicat juga, karena catnya sudah tidak lagi berwarna hitam batu, tetapi nyaris putih. Selain itu, banyak cat gapuro yang mengelupas. Kondisi ini memalukan karena pengunjungnya dari berbagai wilayah pelosok Indonesia yang mengirim peserta (FRN)," terangnya kepada Surya, Minggu (4/11/2012).
Hal senada juga disampaikan Iwan (16) salah satu pelajar Ponorogo yang mengaku takut berada di dalam gedung padepokan reyog. Alasannya, masih banyak asbes yang bergelantungan dan berlubang di lokasi penggodokan seniman itu. Apalagi, jika hujan dan kena terpaan angin dipastikan bakal mengelupas semuanya dan berjatuhan ke lantai dasar.
"Atap jebol dan rusak kenapa tak diperbaiki, jika akan dipakai lomba kerawitan se Ponorogo. Bangunan ini membahayakan pengunjung," ungkapnya.
Sedangkan, Sugeng Prawoto yang tak lain suami Wakil Bupati Ponorogo, Yuni Widyaningsih mengaku jika biasanya di tahun-tahun sebelumnya, acara grebeg suro selalu dibarengi pengecatan panggung utama. Namun, untuk tahun ini belum tidak ada perawatan.
"Sebelumnya apalagi jaman Pak Muhadi selalu dicat panggung utama agar tidak terkesan kumuh. Sepertinya tahun ini agenda pengecatan tak ada. Kami tak tahu masalahnya," ucap toko masyarakat Ponorogo ini.
Sementara Kepala Dinas Pariwisata dan kebudayaan Pemkab Ponorogo, Sapto Jatmiko mengaku jika semua sudah diusulkan anggaran untuk perbaikan dan perawatan panggung utama dan padepokan reyoh. Namun belum hingga kini, belum turun meski pelaksanaan grebeg suro sudah dimulai.
"Kami sudah usulkan dan ajukan perbaikan gedung padepokan reyog dan panggung utama untuk dicat, namun belum turun anggarannya. Kalau tak turun ya biarkan seperti itu," tandasnya.