Buku-buku G30S Tak Disentuh Peminjam

terdapat 24 item judul yang mengupas tentang G30S dan PKI. Namun, koleksi yang sedikit itu pun tak banyak disentuh

Editor: Rudy Hartono
zoom-inlihat foto Buku-buku G30S Tak Disentuh Peminjam
surya/habiburrohman
Petugas Perpustakaan umum Kota Surabaya menata buku-buku tentang sejarah Gerakan 30 September

Entah apakah orang mulai lupa dengan peristiwa itu, yang salah-satunya ditandai dengan pembunuhan para jenderal TNI, yang jelas buku-buku sejarah tentang G30S dan PKI (Partai Komunis Indonesia) ternyata kini sangat sedikit peminatnya.

Di Gedung Badan Perpustakaan dan Arsip Jatim di Jalan Menur Pumpungan Surabaya, dari ribuan koleksi bukunya, terdapat 24 item judul yang mengupas tentang G30S dan PKI. Namun, koleksi yang sedikit itu pun tak banyak disentuh oleh peminjam buku.

“Nggak tahu apa sebabnya kok sedikit sekali peminat buku sejarah, apalagi yang tentang G30S/PKI,” kata Yusuf, Kasubid Pelayanan Badan Perpustakaan dan Arsip (BPA) Jatim, Senin (1/10/2012).

Meskipun 30 September biasanya diperingati sebagai hari berkabung nasional dan 1 Oktober sebagai hari Kesaktian Pancasila, menurut Yusuf, peminjam buku-buku tentang G30S dan PKI kemarin tak ada sama sekali.

Beberapa buku sejarah G30S dan PKI yang terpajang di BPA Jatim antara lain Penghianatan G30S/PKI karya Arswendo Atmowiloto yang diterbitkan Sinar Harapan Jakarta tahun 1988. Lalu buku Tragedi Nasional Percobaan Kup G30S/PKI di Indonesia karya Nugroho Notosusanto yang diterbitkan Jakarta Internusa pada 1990. Kemudian buku Bung Karno: Menggugat G30S, karangan Baskara T Wardaya yang diterbitkan Galang Press pada 2008. Lantas ada juga buku Membongkar Manipulasi Sejarah karya Asvi Warman Adam yang diterbitkan Penerbit Kompas tahun 2009.

Sejak menjadi koleksi BPA puluhan tahun lalu, buku Arswendo Atmowiloto dan Nugroho Notosusanto hanya pernah dipinjam belasan orang saja. Buku Asvi Warman Adam dipinjam enam orang. Sedangkan buku Bung Karno: Menggugat G30S karangan Baskara T. Wardaya belum ada sama sekali yang meminjamnya sejak ditaruh di rak perpustakaan pada tahun 2009.

Jarangnya peminjaman buku-buku sejarah, termasuk bertema G30S dan PKI, juga terjadi di Kantor Perpustakaan dan Arsip (KPA) Pemkot Surabaya di Jalan Rungkut Asri.

Kepala KPA Pemkot Surabaya, Arini Pakistyaningsih mengungkapkan, pihaknya memiliki setidaknya lima judul buku sejarah seputar G30S dan PKI. Masing-masing judul terdiri dari lima buku. Antara lain The Missing Link G30S (Misteri Sjam Kamaruzzaman & Biro Chusus PKI) karangan Agus Dwi Hartanto. Juga Gerakan 30 September 1965: Kesaksian Letkol (Pnb) Heru Atmodjo dengan editor Gordo Sembiring dan Harsono Sutedjo.

Ditanya apakah masih ada warga Kota Surabaya yang berminat dengan buku-buku G30S dan PKI tersebut, Arini menegaskan masih ada kendati jumlahnya sedikit.

Biasanya, yang meminjam buku-buku tersebut adalah mahasiswa jurusan sejarah.

"Ada yang baca, tapi tidak banyak. Di sini yang paling banyak dicari buku anak-anak dan buku ketrampilan," jelas Arini yang mantan Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Pemkot Surabaya.

Terlepas dari kontroversi yang masih muncul tentang peristiwa G30S/PKI, Arini menyebut tidak ada alasan untuk tidak membaca buku-buku itu. Toh, lanjut dia, dengan membacanya, masyarakat bisa membandingkan isinya.

"Dengan membaca, pengetahuan menjadi luas. Kita jadi tahu bahwa ada buku yang berbicara tentang G30S seperti ini, tapi juga ada yang berbicara G30S seperti itu. Makin beragam informasi yang kita dapatkan, tentu akan makin luas pengetahuan kita," jelas Arini.

Sementara itu, Aini, mahasiswa jurusan Psikologi IAIN Sunan Ampel Surabaya mengatakan dirinya tak pernah membaca buku sejarah tentang G30S dan PKI sejak SMA hingga kuliah saat ini.

”Buku sejarah kurang menarik. Saya lebih senang buku psikologi,” kata Aini ketika ditemui sedang mencari buku bacaan di Gedung Badan Perpustakaan dan Arsip Jatim, Senin (1/10). (uji/had)


Sumber: Surya Cetak
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved