13 Kecamatan Ponorogo Jadi Sentra Gaplek

Namun, sayangnya hingga kini hasil gaplek sekitr 100 truk per hari ini, selalu dijual ke luar wilayah Ponorogo.

Penulis: Sudarmawan | Editor: Suyanto
SURYA Online, PONOROGO - Sedikitnya, 13 dari  21 kecamatang di Kabupaten Ponorogo tergolong sebagai sentra penghasil gaplek (singkong dikeringkan). Namun, sayangnya hingga kini hasil gaplek sekitr 100 truk per hari ini, selalu dijual ke luar wilayah Ponorogo.

Pasalnya Ponorogo belum memiliki pabrik pengolah tepung berkapasitas besar.  Ketiga belas kecamatan sentra gaplek tersebut, diantaranya Kecamatan Sawoo, Sambit, Mlarak, Pulung, Sooko, Pudak, Balong, Badegan, Jambon, Slahung, Bungkal, Jenangan dan Kecamatan Ngrayun.

Belasan kecamatan ini kondisi geografisnya berupa perbukitan, pegunungan dan hutan. Rata-rata warga pinggiran hutan menanam singkong karena tidak mampu menanam padi. Di Kabupaten Ponorogo, selama ini hanya ada tiga singkong dengan kapasitas 5 truk per hari milik perorangan.

Dampaknya, ratusan petani yang menghasilkan singkong dan gaplek selama ini menjualnya ke luar wilayah. Apalagi, setiap musim kemarau seperti ini hasil produksi gaplek terus melimpah, lebih dari 100 truk per hari. Hasil ini memang lebih rendah dibanding tahun lalu akibat adanya larangan dan pengurangan lahan singkong di pinggir hutan.

Salah seorang petani penghasil gaplek, Sumini (45) warga Desa/Kecamatan Bungkal mengatakan sebelum adanya larangan dan pengurangan lahan tanaman singkong di pinggiran hutan, pihaknya mampu menjual gaplek 10 ton dalam sehari. Namun, setelah adanya larangan tersebut, hanya mampu mengirim 3 truk per hari keluar kota Ponorogo.

"Sebenarnya waga pinggiran hutan diuntungkan jika bisa mentaati aturan perhutani. Mereka mampu menghasilkan 1 ton singkong per hari setiap panen. Namun warga banyak yang tidak menuruti aturan sehingga hutan rusak. Setelah ditutup seperti ini warga yang rugi," terangnya kepada Surya, Sabyu (15/9).

Hal senada diungkapkan Ningsih (40) warga Desa/Kecamatan Slahung yang juga sebagai petani Singkong. Dia menyadari jika gaplek tahun ini harganya lebih baik dari tahun sebelumnya. Namun lahan tanamannya mulai menipis, karena sebagian petani sudah memanennya saat musim penghujan dan langsung dijual dalam bentuk singkong.
"Masih bisa membuat gaplek, hanya saja sulit. Sebab sudah banyak dipanen saat hutan dan dijual dalam kondisi basah saat musim hujan. Sekarang hanya sisanya. Padahal harga gaplek saat ini Rp 2.000 hingga Rp 2.500 per kilogram," imbuhnya.

Sedangkan petani singkong lainnya, Mitun (50) mengaku untuk mengolah gaplek harus menunggu paling tidak 3 hari agar bisa dijual. Namun sebagian petani sekarang suka menjualnya dalam bentuk singkong basah dari ladang langsung ke tengkulak.

"Mungkin sebagian petani ingin cepat dapat uang. Padahal, jika dibuat gaplek hasilnya lebih baik. Sebab, singkong dijual hanya laku Rp 750 hingga Rp 1.000 per kilogram. Jika gaplek bisa mencapai Rp 2.000 hingga Rp 2.500 per kilogran. Jadi harus pandai-pandai menyiasati agar di musim kemaru masih bisa mengolah gaplek," imbuhnya.

Seorang pedagang singkong dan gaplek, Marlin (35) memaparkan jika harga gaplek tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya. Bahkan harganya sampai 3 great (kelas). Untuk mutu terjelek harganya Rp 1.000 per kilogram, mutu menengah Rp 1.500 hingga Rp 1.750 per kilogram dan untuk mutu terbaik Rp 2.000 hingga Rp 2.500 per kilogram. Jika tahun lalu harganya hanya Rp 2.000 per kilogram.

"Namun untuk cari barang sulit. Lahan olahan berkurang karena hutan banyak yang ditutup perhutani dan banyak petani yang sudah menjual singkong basah saat musim hujan kemarin," urainya.

Marlin merupakan pedagang yang mengambil bahan baku gaplek dari petani dan pedagang singkong. Selanjutnya, diolah menjadi gaplek dan dijual ke pabrik atau pengepul yang lebih besar. Diantaranya ke Trenggalek dan Jombang dikirim ke pabrik dan untuk ke Wonogiri dikirim ke pengepul.

"Karena Ponorogo ini sentra gaplek seharusnya Pemkab Ponorogo membuatkan pabrik pengelolah tepung agar kami tak terlalu jauh menjual gaplek produksi kami. Apalagi, selain 13 kecamatan menjadi sentra penghasil gaplek, Kabupaten Pacitan juga kirim ke Ponorogo termasuk wilayah Madiun bagian timur," tegasnya.

Secara terpisah, Kabid Ketahanan Pangan, Dinas Pertanian Pemkab Ponorogo, Supriynto menegaskan berjanji akan segera membangunkan pabrik pengelolahan tepung di wilayah Kabupaten Ponorogo. Pabrik ini, kata Supriyanto dibangun atas bantuan dana APBD I Propinsi Jawa Timur.

Pabrik pengelolahan gaplek ini akan memproduksi beras analog atau beras cerdas berbahan baku gaplek. Namun demikian, Supriyanto tak mau penyebutkan nilai anggaran untuk membangun pabrik harapan ratusan petani di sentra produksi galek itu. "Pokoknya pabrik akan kami bangun di wilayah Kecmatan Mlarak sebagai salah satu wilayah penghasil gaplek agar petani singkong dan produsen gaplek semakin maju usahanya dan semakin bergeliat," janjinya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved