Tak Diajak Beli Obat, Ibu Muda Sayat Urat Nadi
Mbak memang mau ikut beli obat, tetapi ibu tak mengajaknya karena takut penyakitnya kambuh di tengah jalan
Penulis: Sudarmawan | Editor: Satwika Rumeksa
SURYA Online, PONOROGO-Endah Sri Wainati (28) warga Desa Krebet, Kecamatan Jambon, Kabupaten Ponorogo terpaksa dilarikan ke ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSI Aisiyah, Kabupaten Ponorogo, Kamis (13/9/2012).
Pasalnya, urat nadi tangan kanan korban salah satunya putus dan bersimbah darah usai disayat sendiri menggunakan sebuah sabit.
Diduga aksi percobaan bunuh diri korban ini disebabkan karena tak ada ibu kandungnya membelikan obat ke toko obat terdekat. Selain itu, disebabkan karena korban mengalami depresi setelah ditinggal suaminya selama bertahun-tahun tanpa ada kabar berita.
Beruntung aksi nekat korban ini tepergok adik kandungnya yang saat itu, sedang di sekitar lokasi kejadian. Sehingga nyawa korban masih bisa terselamatkan.
Adik kandung korban, Jarwanto (20) mengatakan awalnya kakaknya bersama ibu kandungnya berada di ruang dapur rumah. Sedangkan saksi berada di kebun samping rumahnya. Karena ibu satu anak ini memiliki penyakit epilepsi, maka ibu kandung korban berencana membelikan obat ke salah satu apotik terdekat atas permintaan korban.
Namun, karena takut anaknya itu kambuh di tengah jalan, ibu kandung korban tak mengajaknya. Pasalnya, penyakit epilepsi yang diderita korban semakin sering kambuh dengan catatan bisa sehari dua kali.
"Mbak memang mau ikut beli obat, tetapi ibu tak mengajaknya karena takut penyakitnya kambuh di tengah jalan. Saat itu, kakak pun ditinggal di rumah. Kemungkinan kakak kecewa langsung lari keluar rumah dan menyayat urat nadi tangan kanannya pakai sabit," terangnya kepada Surya, Kamis (13/9/2012) saat di rumah sakit.
Ketika menjerit kesakitan, kata Jarwanto dia mendengarkan jeritan kakaknya itu dan langsung menolongnya.
"Saat saya rebut sabitnya kakak langsung pingsan karena darahnya terus bercucuran hingga kami bawa ke rumah sakit ini," imbuhnya.
Selain itu, Jarwanto mengungkapkan sakit epilepsi yang diderita kakaknya itu muncul sejak 4 tahun lalu. Namun, akhir-akhir ini penyakit tersebut semakin sering kambuh.
Dalam sehari, penyakit kakaknya itu bisa kambuh hingga 2 kali hingga membuat korban kerapkali terjungkal saat penyakitnya kambuh.
"Makanya tidak salah ibu tak mau mengajaknya tadi daripada di jalan ada apa-apa. Kami pasrah dengan keadaan ini," pintanya.
Namun, karena keterbatasan biaya, korban akhirnya dibawa pulang adiknya untuk menjalani perawatan di puskesmas terdekat di rumahnya menggunakan mobil patroli Polsek Jambon.
"Menurut salah satu petugas medis, luka sayatan di lengan kanan cukup parah. Salah satu syaraf yang berguna menggerakkan jari putus. Sehingga membutuhkan operasi untuk menyambung urat itu.
Karena kami tak memiliki biaya, maka tim medis hanya melakukan perawatan pertama mencegah pendarahan dan memulihkan kondisi kakak. Nanti akan langsung kami bawa pulang biar dirawat di puskesmas saja," pungkasnya.
Sementara, Kapolsek Jambon, AKP Slamet Harijadi menegaskan berdasarkan keterangan sejumlah saksi dan riwayat korban, aksi nekat korban tidak hanya disebabkan karena tidak diajak ibunya membeli obat, akan tetapi juga disebabkan korban mengalami depresi setelah ditinggal suaminya sejak tahun 2006 lalu.
"Apalagi, selama meninggalkan istrinya itu, suaminya merawatkan anak semata wayang korban ke orangtuanya dan suami korban tak pernah memberikan kabar sama sekali. Keterangan ibunya akhir-akhir ini sering berbicara sendiri," tandasnya. Wan