Kamis, 28 Mei 2026

Kampung Sentra Kerajinan Emas Gulung Tikar

Bahkan, dari ratusan perajin di tahun tersebut, kini hanya tinggal sekitar 20 orang yang menemuki usaha keturunan nenek moyang

Tayang:
Penulis: Sudarmawan | Editor: Satwika Rumeksa
zoom-inlihat foto Kampung Sentra Kerajinan Emas Gulung Tikar
surya/sudarmawan
Sunarto (40) salah seorang perajin emas di JL Menur, Kelurahan Ronowijayan, Kecamatan Siman, Kabupaten Ponorogo membakar dan mengolah batangan emas untuk dijadikan berbagai perhiasan, Minggu (2/9/2012).
SURYA Online, PONOROGO-Kampung sentra kerajinan emas di Kelurahan Ronowijayan, Kecamatan Siman, Kabupaten Ponorogo terancam gulung tikar. Pasalnya, sejak dilanda krisis moneter (Krismon) Tahun 1997 - 1998 lalu, para perajin berbagai bentuk perhiasan di kampung ini belum mampu pulih dan berkembang lagi.

Bahkan, dari ratusan perajin di tahun tersebut, kini hanya tinggal sekitar 20 orang yang menemuki usaha keturunan nenek moyang tersebut. Bahkan para perajin cicin, gelang, anting-anting, kalung serta berbagai jenis perhiasan lainnya kini sebagian sudah beralih profesi dengan pekerjaan lainnya.

Sejak Krismon itu, tidak hanya pesanan yang terus mengalami penurunan. Akan tetapi, omzet dan pendapatan para perajin juga sudah jeblok. Dampaknya, kampung sentra kerajinan emas ini bakal kekurangan dan kehilangan penerusnya karena usaha ini kalah dengan perhiasan hasil produksi pabrikan.

Padahal, sebelum krismon itu hampir setiap rumah di kampung ini merupakan para perajin emas yang namanya sudah kesohor di wilayah Karesidenan Madiun.
Salah seorang pemilik warung kopi di pertigaan JL Menur Kelurahan Ronowijayan yang dulunya sempat menjadi perajin emas mengaku perajin emas di wilayahnya sekarang sudah berkurang sejak harga emas mahal.

Pasalnya, kenaikan harga emas dibarengi  dengan menurunnya pesanan para pemilik toko emas dengan memesan perhiasan di pabrikan.

"Masalahnya emas produksi pabrik sekecil apa pun perhiasannya masih bisa dibentuk. Contoh berat emas setengah gram masih bisa dibentuk, jika secara manual sulit dibentuk. Makanya, toko-toko emas banyak yang mengambil buatan pabrik memicu berkurangnya pesan dan membuat usaha warga di kampung kami sepi.

Sekarang hanya tinggal sekitar 20 orang seperti Pak Kusno, Ismun,  Hartono, Sunarto dan Suryono yang masih bertahan," ungkap perempuan yang enggan disebutkan namanya ini.

Salah seorang perajin emas yang bertahan, Sunarto (40) warga JL Menur Nomor 166, Kelurahan Ronowijayan menjelaskan pesanan dan penghasilan perajin emas tidak seramai sebelum krismon. Sejak emas harganya mahal dan toko-toko emas banyak yang mengambil perhiasan produksi pabrik. Kondisi ini, kata Sunarto membuat pengrajin emas di wilayahnya berangsur surut dan bahkan gulung tikar.

"Dulu memang benar hampir setiap rumah memiliki kesibukan sebagai perajin emas. Mulai dari membuat perhiasan, mencuci serta menyepuh emas dan dari pesanan perorangan hingga partai dari toko emas. Kalau harga emas murah perajin bisa kebanjiran pesanan. Tapi kalau mahal tak mendapatkan pesanan," ungkapnya.

Selain itu, bapak 3 anak ini mengaku memiliki kepiawaian sebagai perajin emas sejak masih duduk dibangku SMP. Ia mengaku belajar membuat perhiasan dari kakak-kakaknya. Namun, sejumlah saudaranya itu kini sudah berhenti dan tidak berproduksi perhiasan.
"Belajar saya dari kakak-kakak saya kan dulu semua keluarga saya perajin emas," paparnya.

Selama ini pemesanan lebih banyak dari perorangan dan toko emas dalam jumlah kecil diantaranya untuk membuat cincin kawin calon pengantin. Mengenai upah pihaknya mengaku melihat banyak sedikitnya pesanan dan bergantung tingkat kesulitan pengerjaannya.

"Ongkos tergantung dari banyak sedikitnya bahan yang dikerjakan dan tingkat kesulitan. Rata-rata 5 ribu hingga 35 ribu per batang bahan yang saya kerjakan. Sehari rata-rata mampu menyelesaikan cincin polos dan anting 10 buah," katanya sembari membakar emas batangan yang menyerupai kawat itu.

Sedangkan kendala lainnya, kata Sunarto perajin emas di Ronowijayan kekurangan permodalan dan peralatan yang digunakan masih minim dan terlalu sederhana.

"Modal kecil dan peralatan masih manual, untuk mengejar karya pabrikan masih sulit. Jika ada modal dan peralatan yang agak canggih kami bisa mengimbangi pabrikan. Kami harap ada perhatian pemerintah untuk membangkitkan sentra emas ini," pungkasnya.

Sementara secara terpisah, Kepala Dinas Industri, Perdagangan, dan Koperasi (Indakop) Pemkab Ponorogo, Vifson Suisno menegaskan untuk mengembangkan dan membangkitkan sentra industri kerajinan emas itu masih membutuhkan kajian yang lebih teknis.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved