Perjalanan Fifin
Siap Diterjang Sapi Madura
Madura menyimpan banyak potensi wisata. Tinggal dipoles dan dipromosikan. Ini buktinya.
Saya berangkat berempat bersama Anez, teman Mbolang yang setia, dan dua temannya dari Jakarta, Firsta dan Nico. Nico yang bule bisa sedikit-sedikit berbahasa Indonesia. Tujuan wisata budaya kali ini di Pamekasan.
Kami sepakat melihat Festival Sapi Sono’, Gelar Budaya, dan Karapan Sapi yang digelar tiap tahun untuk memperebutkan piala presiden. Tahun lalu, rangkaian acara diselenggarakan 22-23 Oktober 2011. Acara itu menarik meski harus diakui lebih banyak tamu mancanegara yang justru menantikan momen ini.
Festival Sapi Sono’ merupakan fashion show khusus untuk sapi secara berpasangan. Mereka akan dirias menarik dan nantinya akan berjalan bak di catwalk kemudian pose untuk mendapat penilaian dari para juri. Itu suguhan acara yang sangat menarik. Saat sapi-sapi itu menunggu giliran tampil, pengunjung bisa bernarsis ria bareng sapi-sapinya.
Sudah puas melihat sapi-sapi tersebut pose, perut mulai keroncongan, maka saatnya mencicipi makanan khas Madura. Pilihannya warung rujak favorit di Pamekasan. Meski hanya dibatasi selat yang sudah tidak terpisah, rujak Pamekasan berbeda dengan rujak Surabaya. Rujak Pamekasan aduh… benar-benar lebih sedep karena petisnya lebih enak. Perburuan rujak itu tanpa sengaja.
Begini ceritanya. Saat mulai lelah, kami duduk di warung sekitar tempat festival sekadar minum yang segar-segar. Datanglah sales promotion girl (SPG) dari salah satu kartu telekomunikasi. Ketika ditawari, Anez malah menggoda si mbak dengan minta promo harga, minta merchandise, dan sebagainya. Mbaknya cuma ketawa-ketiwi, tidak sanggup menjawab. Anez kemudian memberi pertanyaan yang harus bisa dijawab yaitu di mana rujak yang paling enak di Pamekasan. Nah, akhirnya kami menemukan rujak sedep itu.
Ketika matahari sudah redup, kami meluncur ke Tugu Arek Lancor tampat Gelar Budaya diadakan. Sebenarnya tidak semua orang boleh masuk ke area itu karena yang diundang para pejabat dan tokoh penting. Berkat Mas Dadang, wartawan kenalan Anez, kami berhasil menyusup. Acaranya, menonton tari-tarian, sandiwara, dan peragaan busana batik khas Madura.
Malam itu, kami menumpang tidur di kantor Bakorwil, dengan menggelar tikar dan karpet. Ada beberapa bule yang mulai banyak berdatangan, menantikan karapan sapi besok.
Pagi, 23 Oktober 2011, kami siap menuju lokasi Karapan Sapi. Begitu masuk GOR R Sunarto saya kaget karena GOR seperti lautan manusia. Karena bareng bule-bule, sebenarnya kami bisa menonton dari tempat VIP di atas panggung. Namun, saya ingin banget memotret secara langsung. Kami pun menunggu di bawah supaya bisa mendapat jepretan terbaik.
Dua sapi pertama telah mulai lari, dipacu joki di belakangnya. Saya yang sedang memegang kamera, tegang dan tidak berani membidik apa-apa, karena sapi-sapi itu berlari dengan kencangnya menuju arah garis finish, tempat saya berdiri. Saya khawatir sapi-sapi itu tidak bisa mengerem, bisa remuk-redam diri ini jadinya. Namun setelah putaran pertama, saya jadi tahu, ternyata setelah mendekati garis finish, sapi-sapi itu dibelokkan ke kiri dan ke kanan menuju keluar arena. Sapi-sapi itu dihentikan dan langsung diobati. Wartawan langsung ngerubuti momen itu. Putaran-putaran berikutnya akhirnya saya bisa ikutan membidik bareng wartawan-wartawan lainnya dengan tenang.
Sesuai jadwal, acara Festival Sapi Sono’ dan Karapan Sapi tahun ini akan diselenggarakan pada 20-21 Oktober 2012. So, tahun ini siapa yang mau mencoba sensasi tersebut?
Fifin