Jenang Mirah Ponorogo Tembus Pasar Luar Negeri

Mbah Mirah mampu mengangkat kehidupan perekonomian warga RT 01, RW 01, Desa Josari, Kecamatan Jetis, Kabupaten Ponorogo.

Jenang Mirah Ponorogo Tembus Pasar Luar Negeri
foto: Surya/Sudarmawan
DIKEMASI - Handoko (40) salah satu anak Mbah Mirah (75) mengemasi jenang hasil produksinya dibantu sejumlah karyawannya, Minggu (29/7/2012).
SURYA Online, PONOROGO - Berawal dari menjajakan jenang dengan cara jalan kaki dari desa ke desa, pasar ke pasar, dari gerbong kereta satu ke gerbong kereta lainnya serta dari stasiun ke stasiun, Mbah Mirah mampu mengangkat kehidupan perekonomian warga RT 01, RW 01, Desa Josari, Kecamatan Jetis, Kabupaten Ponorogo.

Pasalnya, karena kemajuan usaha yang dirintis perempuan usia 75 tahun ini, kini hampir seluruh keluarganya dan para tetangga rumahnya membuka usaha produksi berbagai jenis makanan lainnya. Bahkan bisa dikatakan kampung Josari sebagai kampung oleh-oleh hasil produksi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

Kendati karena usahanya yang dirintis sejak Tahun 1955 itu, kini diserahkan kepada anaknya. Namun keuletan perempuan ini diakui seluruh warga dikampungnya dan para wisatawan yang berdatangkan ke rumahnya untuk membeli berbagai produk hasil indutsri rumah tangganya.

Tidak hanya wisatawan dari wilayah karesidenan madiun dan dalam negeri, akan tetapi Jenang Mirah yang memiliki ciri khas lembut seperti lem tetapi tak lengket ini sudah menembus pasar luar negeri. Hal ini berkat kegigihan sejumlah Tenaga Kerja Wanita (TKW) dan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang membawakan oleh-oleh khas kampung halamannya untuk teman dan majikannya di Malaysia, Taiwan, Singapura, Saudi, dan Hongkong. Selain itu, keluarga besar dari pengunjung Pondok Modern Gontor dan Pondok Pesantren Ngabar yang sebagian santrinya berasal dari luar negeri.

Salah seorang penerus Mbah Mirah, Handoko yang kini mengelolah usaha keluarganya ini mengatakan jika produk jenang miliknya berbahan baku alami tanpa dicampur pengawet. Dia menyebutkan bahannya yakni tepung ketan, tepung beras, gula kelapa, dan santan. Karena perkembangan dan tingginya permintaan di saat Ramadan, Lebaran dan Liburan, usaha ini berkembang tidak hanya menyediakan jenang ketan dan jenang beras saja, akan tetapi juga sudah memproduksi jenang campuran ketan dan beras, jenang waluh, madu mongso, wajik, roti lombokan, roti bolu, kripik pisang, ketela dan kripik gadung.

"Awalnya memang hanya dua produk, kini berkembang menjadi sekitar 13 produk makanan olahan dan makanan khas oleh-oleh agar konsumen tidak bingung mencari makanan jenis lainnya," terang putra Mbah Mirah ini kepada Surya, Minggu (29/7/2012).

Untuk rasa dan kebersihan Handoko berani menjaminnya. Pasalnya, produksi sudah mengantongi ijin dari Dinas Kesehatan (Dinkes) dan Badan Pengawas Obat-Obatan dan Makanan (BPOM). Selain bahan bakunya murni tanpa campuran, proses produksinya juga masih menggunakan cara tradisional menggunakan kayu bakar. Sehingga tidak ada pengaruh gas maupun minyak tanah dimakanan itu.

"Karena hanya pakai kayu itu, menambah cita rasa khas gurih dan harum dimakanan produk kami," imbuhnya.
Selama ini produksi Jenang Mirah menghabiskan bahan baku produk sekitar 3,5 kuintal sehari. Sedangkan untuk ketahanan produk jenang ketan kata Handoko mampu bertahan selama 7 hari. Sedang untuk jenang beras hanya mampu bertahan selama 3-5 hari, dan untuk jenang campuran beras dan ketan mampu bertahan selama 5-7 hari.

Kini, Handoko berharap Pemkab Ponorogo segera membuatkan bangunan stan yang bertujuan untuk memasarkan jajanan dan kerajinan khas Ponorogo agar lebih mudah dikenalkan ke para pengunjung Ponorogo.
"Harapan kami sejak dulu belum terealisasi adanya stan di berbagai titik mulai pusat kota hingga tiap batas wilayah Ponorogo atau pintu gerbang. Hal itu sangat membantu para pengusaha dan perajin di Ponorogo ke depan," pungkasnya.

Penulis: Sudarmawan
Editor: Heru Pramono
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved