Perjalanan Fifin

Off Road Alami Hutan Baluran

Hutan Baluran menjadi penutup petualangan Banyuwangi.

Editor: Endah Imawati
SURYA Online, BNYUWANGI - Tidak lengkap rasanya kalau menjelajah Banyuwangi tanpa menjenguk Hutan Baluran. Jika di Alas Purwo rasanya seperti menerobos wilayah antah berantah karena pepohonan besar yang tumbuh rapi di tepi pantai, di Baluran hutannya lebih kering.

Saya sudah membayangkan petualangan seru karena baik Anez dan pasangan Yogie-Lia belum pernah menjelajah ke sana. Go… go… go…. Warung Rawa Bendo di Alas Purwo adalah pos terakhir. Pemilik warung itu benar-benar baik. Begitu tahu akan menyusuri Hutan Baluran, kami diberi bekal ikan goreng. Bonus… bonus….

Tidak menunggu terlalu lama, Greta –Taft kesayangan Yogie—langsung diajak menderum. Sampai Hutan Baluran sekitar pukul 01.00. Dini hari itu pula kami minta izin kepada petugas dan langsung membuka tenda di camping ground persis di pinggir sungai. Langit malam begitu cerah dihiasi banyak bintang sama seperti malam sebelumnya.

Tidak ada yang berbicara. Semua sibuk mencari sinyal untuk pamer kebahagiaan kami di bawah langit berbintang. Ponsel ditutup lagi. Berempat memilih mengobrol sambil menikmati malam penuh bintang yang pasti langka didapat di Surabaya.

Matahari pagi mengingatkan bahwa tidak banyak waktu untuk bermalas-malasan. Ada beberapa objek yang harus didatangi sebelum kembali ke Surabaya. Karena itu hari terakhir, persediaan makanan yang ada tinggal sedikit. Kornet hanya separo, mi goreng, dan ikan laut dari Rawa Bendo.

Kali ini Anez yang jadi koki utamanya. Sementara ikan lautnya, kami bakar bersama-sama di sisa bara api unggun semalam. Di hari terakhir ini, kami membuat penyajian yang berbeda dari biasanya. Lia mencari daun pisang yang masih utuh kemudian menggelarnya sebagai meja saji. Ia memotong daun pisang untuk pengganti piring. Hm… ternyata rasanya begitu lezat dan sangat natural.

Hutan di Baluran karakternya lebih banyak semak-semak berduri. Di daerah hutan ini pun banyak sekali savana untuk pengembangbiakan banteng. Sebenarnya yang terkenal di Baluran ini adalah safari malamnya, tetapi karena waktu terbatas, kami tidak bisa melihatnya.

Perjalanan menuju Pantai Bama yang terkenal sangat indah dengan pemandangan bawah lautnya cukup lancar. Karakter pantainya sangat tenang dengan hutan bakau di sekitarnya. Karena di sana ramai pengunjung, kami tidak berlama-lama dan berpindah ke pantai yang menurut petugas lebih alami yaitu di Pantai Bilik Sijile. Dengan berbekal keterangan dari petugas dan peta, kami mencoba mencari sendiri lokasi pantai itu.

Kami harus melewati hutan dengan medan off road yang cukup sulit karena berbatu-batu besar dan pasir. Untungnya Lia sebagai co-driver cukup terampil mengarahkan. Anez bertugas berdiri di belakang mobil untuk melihat kondisi jalanan di depan. Sementara saya sibuk mengabadikan setiap momen.

Jalannya sangat sempit sehingga ketika berpapasan dengan sepeda motor penduduk yang mencari rumput harus mengalah salah satu. Tak jarang beberapa kali kami harus mencari jalur lain karena terhalang pohon atau kondisi jalan yang sangat rusak.

Di tengah perjalanan menuju pantai, ada satu area seperti savana yang sangat luas dengan beberapa pohon kaktus besar-besar. Kami hampir putus asa karena rasanya memang seperti tidak ada ujungnya padahal hari sudah beranjak malam. Kepalang tanggung, maka kami kembali melanjutkan perjalanan.

Akhirnya ada kehidupan. Akan tetapi, itu bukan tempat wisata seperti yang dibayangkan melainkan permukiman penduduk. Di sana ada pantai, tetapi itu adalah Bilik Merak. Menurut infomasi penduduk, untuk ke Bilik Sijile, di tengah perjalanan tadi seharusnya kami belok ke kiri. Dan kami juga baru tahu mengapa akses menuju ke sana tidak diperbaiki karena untuk menghindari pemburu liar masuk dan semakin mengurangi populasi banteng yang ada di situ.

Walaupun tersasar, kami tidak kecewa karena cukup puas dengan tantangan jalan off road yang cukup memacu adrenalin. Kami sepakat untuk mencatat Bilik Sijile sebagai tempat yang wajib dikunjungi, suatu hari nanti.

Baluran menjadi penutup perjalanan ke Banyuwangi. Greta dipacu kembali ke Surabaya. Sampai Surabaya subuh. Setelah memejamkan mata sejenak, saatnya bekerja. Mata saya langsung sibuk menatap kalender duduk di meja kantor, mencari tanggal merah, merancang cuti.

Fifin

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved