Di China Guru Bisa Bergaji Rp 115 juta!
Di Guangzhou, gaji guru mencapai 80.000 Yuan atau sekitar Rp 115.000.000 per tahun plus fasilitas hunian. Berminat? Rebut beasiswanya.
Tayang:
Editor:
Tri Hatma Ningsih
oleh: Daniel Gunawan
Mahasiswa Akuntansi Universitas Widya Kartika Surabaya
Belajar memang tidak mengenal batas, baik itu batasan tempat dan waktu. Dan belum lama ini saya berkesempatan untuk merasakan pendidikan di negeri orang. Seolah mengikuti kata pepatah, negeri China menjadi tempat bagi saya dan rekan-rekan mahasiswa Universitas Widya Kartika Surabaya untuk menuntut ilmu. Kesempatan ini pun tidak saya sia-siakan untuk mencari tahu mengapa Negeri Tirai Bambu ini menjadi tujuan bagi orang dari berbagai penjuru dunia untuk menuntut ilmu di sana.
Di China, tepatnya di kota Guangzhou, kami belajar bahasa Mandarin di Guangdong University of Foreign Studies yang merupakan salah satu universitas terbaik di China dalam bidang bahasa. Di sana kami berguru kepada mahasiswa S2 jurusan bahasa Mandarin yang sedang praktik magang, yang sekaligus menjadi teman bergaul kami sehari-hari. Tak hanya belajar bahasa, selama empat minggu di sana kami juga diperkenalkan dengan budaya masyarakat setempat juga kesenian tradisional khas negeri Tiongkok, seperti paper cutting (jianzhi) dan Chinese calligraphy (shufa).
Berbeda dengan Indonesia, di China pendidikan nampaknya menjadi salah satu prioritas utama bagi penduduk dan juga pemerintah. Kami cukup terkesan dengan area kampus di sana yang dilengkapi dengan fasilitas penunjang yang memadai, mulai dari gedung-gedung asrama yang nyaman, arena olah raga, gedung perpustakaan modern, hingga keberadaan beberapa supermaket yang semuanya mempermudah pelajar asing seperti kami untuk beradaptasi. Ketika kami berkunjung ke kantor ketua program studi, beliau dengan senang hati menjelaskan bahwa di China tersedia beragam beasiswa yang meng-cover mahasiswa lokal maupun mahasiswa asing, mulai dari beasiswa tingkat pemerintah pusat, provinsi, kota, hingga institusi itu sendiri.
Pada suatu kesempatan salah satu laoshi alias guru kami menjelaskan bahwa kepadatan penduduk negeri China yang mencapai angka 1,3 triliun jiwa membuat persaingan antar individu menjadi sangat ketat. Sehingga melalui pendidikan yang tinggi mereka berharap dapat meningkatkan nilai jual mereka di dunia profesional. Saya tak heran jika di sana para lulusan sarjana yang masih muda-muda seperti teman baru saya itu kemudian langsung melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Berbicara soal pendidikan, tentu tak bisa lepas dari para pengajarnya. Di China, tenaga para pengajar begitu diapresiasi. Di sana guru menjadi profesi yang disegani oleh masyarakat dan kesejahteraan mereka cukup terjamin. Di kota-kota besar seperti Guangzhou ini misalnya, gaji guru bisa mencapai angka 80.000 Yuan atau sekitar Rp 115.000.000 per tahun ditambah dengan fasilitas hunian seperti yang kami jumpai di sekitar asrama mahasiswa. Fasilitas ini jelas sangat membantu mengingat housing price di kota-kota besar China bisa mencapai 25.000 Yuan atau sekitar Rp 35.000.000/m2. Bahkan menurut pengalaman mahasiswa di sana, tenaga tutor atau yang biasa kita kenal sebagai guru bimbingan privat bisa dihargai sebesar 200 Yuan per jam. Hal ini jika dibandingkan dengan kondisi kesejahteraan para guru di Indonesia tentu sangatlah kontras.
Selama belajar di sana kami juga menjumpai cara belajar para mahasiswa lokal yang cukup unik. Mereka terbiasa belajar di tempat terbuka, seperti di taman kampus, aula, atau selasar. Ketika berjalan melintasi taman, sering kami melihat banyak pelajar yang tanpa mempedulikan orang-orang di sekitar dengan lantang melafalkan bahasa asing yang mereka pelajari. Mungkin memang demikian karakter penduduk China yang cuek dan pekerja keras.
Dengan kualitas dan kemajuan sistem pendidikan yang demikian tentu tidaklah heran apabila Negeri Tirai Bambu sudah mencapai pembangunan nasional. Dari pengalaman ini saya mulai percaya bahwa keberhasilan China di sektor ekonomi dan perdangangan serta kemajuan ilmu pengetahun dan teknologi memang didukung oleh pondasi sektor pendidikan yang demikian kokoh.
KOMENTAR