Tentang Cok Sawitri dan Tantri, Perempuan yang Bercerita (1)
Penulis: Tri Hatma Ningsih |
Nusya Kuswantin
Penulis Lepas
nusyakuswantin@yahoo.com
Saya mengenal Cok Sawitri (43 tahun) pada tahun 2004 di Jakarta. Dunia penulisan lantas membuat kami menjadi akrab. Dialah orang yang pertama kali mendukung agar novel saya Lasmi (2009) diterbitkan. (Novel saya ini di tahun 2011 diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul A Woman Called Lasmi). Cok adalah seorang seniman Bali yang produktif, menulis banyak puisi, menulis tiga novel, dan bermain serta menyutradarai beberapa pentas teater. Tulisan saya ini merupakan apresiasi saya terhadap novelnya yang terakhir, Tantri Perempuan yang Bercerita.
Penulis Lepas
nusyakuswantin@yahoo.com
Saya mengenal Cok Sawitri (43 tahun) pada tahun 2004 di Jakarta. Dunia penulisan lantas membuat kami menjadi akrab. Dialah orang yang pertama kali mendukung agar novel saya Lasmi (2009) diterbitkan. (Novel saya ini di tahun 2011 diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul A Woman Called Lasmi). Cok adalah seorang seniman Bali yang produktif, menulis banyak puisi, menulis tiga novel, dan bermain serta menyutradarai beberapa pentas teater. Tulisan saya ini merupakan apresiasi saya terhadap novelnya yang terakhir, Tantri Perempuan yang Bercerita.
***
Jajaran kata yang berirama stakato dalam novel Tantri Perempuan yang Bercerita (Penerbit Buku Kompas, Mei 2011) membuat saya membayangkan penulisnya, Cok Sawitri, sedang mendalang: Berkulit tembaga dengan mata menyala, Kumaraditya, prajurit muda yang tengah menuju cita-cita menjadi prajurit sejati, menjadi Sang Setia, duduk tenang di antara ratusan prajurit muda lainnya. Di sini, tidak ada masa depan bagi yang ragu hatinya, tidak ada tempat bagi yang berkhianat. Begitulah kalimat pembuka itu. Tegas, berima, menggambarkan karakter yang kuat, dalam kalimat yang tak berpanjang kata. Kalimat yang cukup ringkas untuk menegaskan maknanya, tanpa kehilangan rasa puitika. Cok memang dalang yang kerap berkisah di panggung teater, terlatih menyusun narasi yang memiliki daya pukau. Dan hal seperti ini bukan persoalan sulit buat Cok. Lihatlah akun facebook-nya. Nyaris ia setiap hari mengasah rasa puitikanya melalui kolom statusnya. Kumaraditya –tokoh di awal novel ini– dikisahkan telah bersumpah kepada negara dan raja, sedia mati tanpa bertanya apa alasannya, mendapat tugas dari punggawa istana untuk menculik gadis-gadis demi dipersembahkan kepada sang raja yang tiap malam hatinya gundah-gulana dilanda insomnia gara-gara rasa asmara. Tak ayal bagian ini membuat saya teringat kisah di masa kemarin negeri ini tentang pasukan rahasia yang diberi tugas khusus menculik para aktivis. Cok lantas mengemas novelnya ini menjadi kisah berbingkai, di mana pesan disampaikan melalui kiasan dalam cerita fabel. Dan di dalam cerita fabel itu pesan juga disampaikan melalui kiasan dalam bentuk cerita yang juga berbingkai. Sama sekali tak ada petuah yang sifatnya menggurui, karena pesan disampaikan secara tidak langsung. Maklum, adalah sang raja sendiri yang mesti mengubah perangainya, kendati ia terperosok karena ulah oknum punggawa istana. Maka tak boleh ia sampai merah mukanya, tak boleh ia merasa rasa harga dirinya terusik. Sebagai raja, Eswaryadala perlu diingatkan dengan cara yang sangat lembut dan halus, cara yang bisa diterima oleh martabat raja, bahwa raja tak boleh lupa bahwa ia tengah mengemban titah dewata untuk menjaga ketenteraman negerinya. Dan itu adalah melalui pesan terselubung yang dibingkai dalam suatu cerita yang juga membingkai kisah yang lain dan seterusnya, menjadi rangkaian kisah-kisah yang saling jalin-menjalin. Sekilas, kemasan cerita ini mengingatkan saya pada cerita Persia yang amat legendaris, 1001 Malam. Namun setelah tuntas saya baca, saya sadari kesan saya ini terlalu cepat saya simpulkan. Sebagaimana dalam dua novelnya yang terdahulu, Janda dari Jirah (2007) dan Sutasoma (2009). Dalam Tantri Perempuan yang Bercerita ini Cok juga mengandalkan kisah-kisah klasik dari tradisi lisan Bali yang memang diakrabinya sejak kecil. Sebagai sosok yang lahir dari keluarga bangsawan di Sidemen, Karangasem, Bali, Cok memang mewarisi tradisi lisan dari para tetua. Cerita berbingkai membuat Cok bebas memasukkan berbagai macam kisah. Bahkan juga tentang perselisihan pendapat mengenai kebenaran sastrawi di dalam dunia binatang yang menyebabkan I Lutung merasa yakin, jika ia mati karena setia pada janji, setia pada kejujuran isi tulisannya, ia akan mendapatkan surga (hal. 199). “Baiklah, saat ini hamba tak akan membela diri. Prosa yang hamba tulis, puitika yang hamba yakini, sungguh mulia menjadi jalan kematian bagi hamba, sebab tak ada jalan lain. Ini kepala hamba, hamba haturkan sebagai persembahan.” Dan matilah I Lutung demi keyakinan sastrawinya. Tubuhnya lantas dikuliti oleh dua binatang penilai sastra, dan dagingnya yang kenyal dan gurih tandas disantap. Sementara, teman yang menyanggah pendapatnya lantas merasa hidupnya menjadi begitu sunyi oleh perkara yang konyol. (bersambung ke tulisan dua)KOMENTAR