Kamis, 9 April 2026

Tengoklah Sejarah Agar Tak (Selalu) Salah langkah

Penulis: Tri Hatma Ningsih |
FX DOMINI BB HERA Mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Negeri Malang Francisˍxˍhera@yahoo.co.id Benedict R OG Anderson, pengamat Indonesia mengatakan, selama peristiwa 1965-1966 tak dihadapi secara jujur dan terbuka oleh manusia Indonesia, maka proses pengeroposan dan kekejaman akan terus terjadi. Peristiwa yang dimaksud adalah pembantaian massal berikut perampasan hak sesama anak bangsa. Sebuah potret buram perjalanan Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia. Hakekat setiap peristiwa kelam yang terjadi adalah buah ketidakadilan yang bersumber pada pelanggaran HAM. Di alam reformasi desakan atas sejarah yang mengandung kejujuran dan kebenaran menjadi keniscayaan. Maklum, sejarah rawan dimanipulasi untuk kepentingan penguasa. Merupakan tanggung jawab moral pendidik memberi pembelajaran yang proporsional seputar HAM sejak dini. Hal tersebut mendesak dilakukan agar peringatan George Santayana tak menjadi kenyataan, yakni orang yang tak belajar sejarah dihukum untuk selalu mengulangi kesalahan yang sama. Dalam semangat itulah Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI) menggandeng sejumlah LSM HAM menggelar lokakarya Pengembangan Bahan Ajar Sejarah Berwawasan HAM, pada 20-21 Januari 2012 di Hotel Sahid Montana, Malang. Buku Panduan Bahan Ajar Sejarah Berwawasan Hak Asasi Manusia dibagikan kepada peserta. Kata pengantar buku ini diberikan oleh Menteri Hukum dan HAM RI. Nilai HAM yang universal dan tidak membedakan SARA merupakan pembelajaran humanis bagi peserta didik. Tindakan kekerasan yang terjadi pada masa lalu hingga kini dapat dianalisis secara kreatif oleh guru sejarah di dalam kelas. Sinergi positif antara HAM dan materi pembelajaran sejarah diharapkan mampu mencerdaskan kehidupan bangsa, merangsang logika, dan menumbuhkan kritisisme yang sehat bagi peserta didik. Prof Hariyono, Dekan FIS Universitas Negeri Malang mengungkapkan, bukan zamannya lagi guru menjadikan buku paket sebagai sumber kebenaran pembelajaran sejarah. Seolah-olah materi sejarah di luar buku teks menjadi salah. Diperlukan budaya baca tinggi seorang guru untuk mengambil jarak secara objektif, sebelum mengambil sikap dalam pengajaran di kelas. Bukan pula saatnya pelajaran sejarah identik dengan hafalan. Lebih dari itu, pelajaran sejarah merupakan pelajaran kehidupan yang membuat tingkat analisa peserta didik berkembang. Asvinawati, aktivis LBH Jakarta, memaparkan perhatian terhadap analisis kebijakan pemerintah yang dikaitkan dengan HAM. Hal ini diharapkan mampu merangsang daya nalar peserta didik dalam setiap peristiwa sejarah yang dipelajari. Sementara Ratna Hapsari, Ketua Umum AGSI, menandaskan pentingnya kreativitas metode pengajaran. Pelatihan metode pengajaran bagi guru yang sangat kurang dapat diimbangi dengan pengembangan materi secara cerdas seperti mengaitkan materi pembelajaran sejarah dan HAM. Sedangkan Grace Leksana dari Institut Sejarah Sosial Indonesia (ISSI) menawarkan bahan pengajaran sejarah seperti arsip dan dokumen sejarah berbasis foto, rekaman, serta video yang dapat dipakai oleh guru sejarah sebagai bahan ajar alternatif. Inilah upaya yang dilakukan AGSI untuk terus melakukan terobosan pembelajaran sejarah yang bermakna dan senantiasa menginspirasi serta memotivasi setiap insan manusia untuk kehidupan yang lebih baik.
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved